ICW Kritik Perencanaan Proyek Whoosh: Pemerintah Dinilai Kurang Matang Antisipasi Utang ke China

photo author
Achmad Zainur Roziqin, TitikTemu.co
- Kamis, 13 November 2025 | 12:50 WIB
ICW soroti perencanaan persiapan proyek Whoosh oleh pemerintah. (Instagram/keretacepat_id)
ICW soroti perencanaan persiapan proyek Whoosh oleh pemerintah. (Instagram/keretacepat_id)

ICW menilai polemik yang terjadi saat ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih transparan terhadap kajian dan analisis proyek Whoosh.

“Harus jelas kajiannya. Karena dari Jakarta ke Bandung sudah banyak opsi transportasi, seperti kereta reguler, travel, hingga kendaraan pribadi. Semua itu harus diperhitungkan secara rigid sebelum proyek berjalan,” ujar Almas.

Meski begitu, Almas juga mengakui bahwa proyek Whoosh memiliki manfaat, terutama dalam memangkas waktu tempuh perjalanan antarwilayah. Namun, ia menekankan bahwa keputusan proyek besar yang melibatkan utang jangka panjang harus didasari pertimbangan yang matang.

“Setiap kebijakan dengan dampak panjang, apalagi terkait utang luar negeri, harus benar-benar disiapkan dengan analisis mendalam,” tegasnya.

Baca Juga: Menteri HAM Natalius Pigai Ultimatum Instansi Pemerintah dan Swasta: Satu Bulan Selesaikan Regulasi Anti-Bullying

Latar Belakang Polemik Utang Whoosh

Sebelumnya, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mengungkapkan bahwa proyek Whoosh awalnya ditawarkan oleh Jepang dengan nilai 6,2 miliar dolar AS, sedangkan China menawar 5,5 miliar dolar AS.
Namun, dalam perjalanannya, nilai proyek bersama China meningkat menjadi 6,07 miliar dolar AS, dan bahkan membengkak lagi karena cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar AS, sehingga total menjadi 7,27 miliar dolar AS.

Dari total dana tersebut, 75 persen dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank, sementara 25 persen sisanya merupakan modal dari konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (60 persen) dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. (40 persen).

Kini, pemerintah tengah melakukan negosiasi restrukturisasi pembayaran utang bersama Danantara, dengan wacana memperpanjang masa pelunasan dari 40 tahun menjadi 60 tahun.

Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Rehabilitasi Hukum untuk Dua Guru SMAN 1 Luwu Utara, Pulihkan Nama Baik dan Haknya

Kritik ICW terhadap proyek Whoosh menyoroti pentingnya perencanaan, transparansi, dan kajian yang mendalam sebelum pemerintah melaksanakan proyek besar yang melibatkan pembiayaan luar negeri.
Menurut ICW, lemahnya tahap awal perencanaan menjadi akar dari masalah utang dan ketidaksesuaian proyeksi ekonomi yang kini tengah dihadapi.

“Kita harus belajar dari kasus Whoosh agar ke depan proyek strategis nasional tidak lagi jadi beban negara, tapi benar-benar memberi manfaat bagi rakyat,” tutup Almas.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Achmad Zainur Roziqin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X