> “Saya ini dulunya insinyur. Saya paham bahwa produk teknologi harus dites, dari skala kecil sampai besar, bukan langsung lempar ke pengguna,” ujarnya.
Ia membandingkan pengembangan Coretax dengan software global seperti Windows yang selalu mengalami pembaruan bertahap untuk memperbaiki bug.
> “Saat mau diluncurkan, harusnya kesalahannya sudah minimal,” tambahnya.
Baca Juga: Pengakuan Dingin 45 Tahun Kemudian: Motif Pembunuh John Lennon Ternyata Demi Ketamakan Ego
Masalah Kontrak Hingga Dugaan ‘Dikibuli Asing’
Perbaikan Coretax terhambat karena akses source code sebagian modul masih ditahan vendor, dalam hal ini LG CNS Qualysoft.
> “Begitu kita dapat source code, tim saya cek, ternyata level kodenya kayak program buatan anak baru lulus SMA. Jadi ya, Indonesia sering dikibuli asing,” sindirnya tajam.
Menurut Purbaya, modul paling krusial yang masih bermasalah adalah bagian yang dikerjakan vendor asing tersebut.
Apa Itu Coretax dan Kenapa Penting?
Coretax adalah proyek sistem perpajakan nasional berbasis teknologi besar yang dikembangkan untuk:
- Mendeteksi kecurangan pajak
- Mengintegrasikan seluruh fungsi administrasi pajak
- Mempercepat pelaporan dan pembayaran pajak
- Meningkatkan pengawasan DJP
Proyek ambisius ini menelan anggaran Rp1,3 triliun melalui Perpres 40/2018, dikerjakan bersama tiga perusahaan asing:
- PwC Indonesia
- LG CNS Qualysoft Consortium
- Deloitte Consulting
Polemik seputar kegagalan Coretax menunjukkan bahwa proyek teknologi berskala nasional tidak cukup hanya mengandalkan anggaran besar dan kerja sama dengan vendor asing.
Transparansi, kompetensi teknis, serta kontrol kualitas yang ketat adalah syarat mutlak agar sistem strategis seperti administrasi perpajakan tidak justru menjadi beban negara.
Pemerintah kini berada pada titik krusial: memperbaiki fondasi teknologi perpajakan agar benar-benar kredibel, atau membiarkan masalah yang sama berulang di masa depan.
Publik tentu menunggu tidak hanya janji perbaikan, tetapi bukti nyata bahwa proyek Coretax akan kembali ke jalur yang semestinya—efisien, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan nasional.***
Artikel Terkait
Pengakuan Dingin 45 Tahun Kemudian: Motif Pembunuh John Lennon Ternyata Demi Ketamakan Ego
Menkeu Bongkar Programmer Coretax dan LG Cuma Lulusan SMA, Indonesia Merasa Dibohongi?
Erick Thohir Tutup Bab Shin Tae-yong: Saatnya Timnas Indonesia Punya Jalan Cerita Baru
Mahfud MD Bongkar Risiko Tersembunyi Proyek Whoosh: Utang, Kontrak Rahasia, dan Bayangan China
Tito Karnavian Luruskan Data Dana Mengendap Pemda: Bukan Hilang, Tapi Bergerak
Drama Utang Whoosh: Untung ke China, Ruginya Ditanggung Indonesia?
Bekasi Membantah: Bukan Soal Jabatan, Ini Soal Harga Diri Pemerintahan Daerah
Nubia Z80 Ultra Dirilis, Bawa Baterai Jumbo dan Kamera Setara DSLR
Slow Living di Temanggung: Hidup Tenang dan Damai, Tak Semua Sempurna
10 HP Terbaik untuk Konten Kreator 2025, lengkap dengan Harga