Pengakuan Dingin 45 Tahun Kemudian: Motif Pembunuh John Lennon Ternyata Demi Ketamakan Ego

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 13:15 WIB
empat dekade, dunia bertanya-tanya: apa sebenarnya yang mendorong Mark David Chapman menembak mati John Lennon (Instagram c@recordingacademy)
empat dekade, dunia bertanya-tanya: apa sebenarnya yang mendorong Mark David Chapman menembak mati John Lennon (Instagram c@recordingacademy)

TITIKTEMU.CO - Selama lebih dari empat dekade, dunia bertanya-tanya: apa sebenarnya yang mendorong Mark David Chapman menembak mati John Lennon, ikon musik dunia dan salah satu pendiri The Beatles? 

Kini, pada usia 70 tahun, Chapman kembali ke publik melalui pernyataan mengejutkan dalam sidang pembebasan bersyarat terbarunya—ia mengaku pembunuhan itu dilakukan hanya demi mencari ketenaran pribadi.

Dalam transkrip resmi sidang dewan pembebasan bersyarat yang dipublikasikan menjelang peringatan 45 tahun kematian Lennon, Chapman mengatakan tindakan keji yang ia lakukan pada 8 Desember 1980 itu tidak berhubungan dengan ideologi, dendam, atau fanatisme—melainkan murni dorongan ego.

“Saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Karena dia sangat populer. Ini tindakan egois,” ujar Chapman seperti dilaporkan New York Post, Jumat (24/10/2025).

Pengakuan dingin tersebut kembali membangkitkan luka lama bagi jutaan penggemar John Lennon di seluruh dunia.

Sosok Lennon selama ini menjadi simbol perdamaian, aktivisme, dan kebebasan berekspresi—kematiannya seketika meruntuhkan harapan banyak orang yang tumbuh bersama musik dan nilai-nilainya.

Baca Juga: 5 Tanda Kota Siap untuk Slow Living, Lengkap dengan Cara Menemukannya di Peta

Tragedi Kelam di Depan Dakota Building

Malam itu, Lennon baru saja pulang bersama Yoko Ono ke apartemen mereka di The Dakota Building, Manhattan.

Tanpa diduga, Chapman yang sudah membuntutinya sejak siang, menembakkan empat peluru ke arah Lennon dari jarak dekat.

Ironisnya, beberapa jam sebelum kejadian, Chapman sempat meminta tanda tangan Lennon pada album Double Fantasy.

Foto momen itu kemudian menjadi salah satu dokumentasi terakhir Lennon masih hidup.

Alih-alih melarikan diri setelah menembak targetnya, Chapman justru duduk dengan tenang di trotoar sambil membaca novel The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger—buku yang ia yakini sebagai “pembenaran” atas tindakannya.

Chapman memandang Lennon sebagai sosok munafik yang tidak hidup sesuai pesan damai yang ia suarakan dalam lagu-lagunya, termasuk Imagine.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X