"Pengembangan vaksin sangat kompleks, untuk sampai tahap uji klinis, masih panjang prosesnya. Saat ini kita sedang persiapkan melakukan uji imunogenitas pada hewan percobaan", kata Tri yang juga menjadi tim pengembang vaksin Merah Putih UGM ini.
Tri menjelaskan untuk melihat efek imunogenitas vaksin, timnya akan menguji kandidat protein ke mencit.
Baca Juga: Wabah Covid 19 Melanda Liga Premier Inggris, Boxing Day Liverpool Vs Leeds Ditunda
Dalam pengembangan vaksin Merah putih, UGM fokus pada pengembangan vaksin berbasis DNA protein rekombinan dan menggunakan Carbonated Hydroxyapatite (CHA) sebagai adjuvan.
"Yang membedakan pengembangan vaskin UGM ini dengan yang lainnya, adalah pada platform teknologinya yakni rekombinan protein," tuturnya.
Tri menyebutkan setiap platform pengembangan vaksin mempunyai keunggulan dan kelemahan.
Baca Juga: INFO LOKER: PT Sinar Mas Mutifinance Membuka Lowongan untuk Posisi Mobile Marketing
Menurutnya, vaksin yang dikembangkan UGM dengan berbasis protein rekombinan, lebih menjanjikan untuk mengurangi potensi efek samping.
Tak hanya itu, platform tersebut juga lebih mudah dalam produksi massal.***
Artikel Terkait
Pemkot Semarang Terima Vaksin Moderna Untuk Booster Tenaga Kesehatan
Belum Dibutuhkan, WHO Kecam Vaksin Booster di Negara-negara Kaya
Vaksin Booster Covid-19 untuk Umum, Perlukah? Simak Kata Ahlinya
Tidak Semuanya Gratis! Vaksin Booster Covid-19 Diberikan Awal 2022, Ini Bocoran Harganya
Vaksin Booster Mulai Januari, Hanya Gratis untuk 83 Juta Orang, Ini Syaratnya