“Terbukti, cuci tangan pakai sabun terkesan remeh, tapi ternyata sangat penting dan kontribusinya signifikan dalam mengantar kita ke situasi yang lebih kondusif ini,” tegas Dokter Reisa.
Baca Juga: Siap-siap Piknik, Kuy! Ini 10 Destinasi Wisata Jogja Paling Baru
Selain itu, cuci tangan pakai sabun juga berdampak pada penurunan penyakit diare hingga 30% dan penyakit saluran pernafasan pada anak atau Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) hingga 20%. Kedua penyakit tersebut adalah penyebab utama kematian balita di Indonesia.
“Kementerian Kesehatan menyerukan agar semua orang, di manapun, harus melakukan praktik CTPS. Mari tingkatkan praktik cuci tangan kita sampai dengan 100%, karena ini adalah cara termudah, termurah, dan tercepat membunuh virus dan kuman lainnya di tangan kita,” ujar Reisa.
Ia menyatakan, belum semua rumah di Indonesia memiliki fasilitas cuci tangan, seperti ditunjukkan oleh data BPS 2020, di Indonesia 1 dari 4 orang tidak memiliki fasilitas tersebut di rumahnya.
Pandemi, ujar Reisa, mengajarkan bahwa ruang-ruang publik harus menyediakan fasilitas cuci tangan yang dapat digunakan masyarakat.
Guna meningkatkan ketersediaan fasilitas tersebut, kemitraan swasta dan pemerintah mengumumkan, sebanyak 15.000 sekolah akan menerima perlengkapan untuk sekolah aman Covid-19, seperti sabun batang dan cari, cairan pembersih tangan, dan cairan disinfektan. Sekolah-sekolah penerima meliputi SD, SMP dan madrasah tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Akses ke air bersih, sanitasi dan kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari lingkungan sekolah yang aman, bersih, dan sehat. Bahkan, menurut Reisa , pemerintah mewajibkan ketersediaan sarana cuci tangan, sanitasi air dan kebersihan sebagai syarat sekolah dibuka kembali.
“Sekolah yang aman Covid-19 termasuk dengan tersedianya fasilitas cuci tangan pakai sabun, hanya akan menambah kepercayaan diri orang tua untuk mengizinkan anak-anak mereka kembali ke sekolah,” tutur Reisa.
Terkait hal terebut, ia menjelaskan, telah dilakukan survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan UNICEF pada 10-14 September 2021 di 34 provinsi di tanah air, yang mengumpulkan tanggapan dari 1.200 orang tua dan wali murid anak prasekolah, taman kanak-kanak, SD, SMP dan SMA.
Hasil survey menunjukkan, sebagaian besar orang tua anak-anak di berbagai tingkat pendidikan percaya, bahwa sekolah sudah cukup siap melanjutkan pembelajaran tatap muka, dan akan mengizinkan anak-anak mereka kembali ke sekolah. “Hal ini adalah perkembangan bagus sebagai hasil kerja keras kita bersama,” kata Reisa.
Ia menekankan, dengan adanya langkah-langkah mitigasi risiko Covid-19, seperti masker, saluran udara yang memadai di kelas, sistem hadir 50%, juga tersedianya tempat cuci tangan pakai sabun, maka sekolah dapat menjadi lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak.
Artikel Terkait
Ingin Terhindar dari Covid-19? Stop kebiasaan Ngupil!
Adaptasi Kebiasaan Baru Ini Sebelum Melakukan Aktivitas Di Luar Rumah
Wow, Survei Menyebutkan Kebiasaan Gosok Gigi Menurun Saat Pandemi COVID-19!
Jadi Kota Sehat, Angka Harapan Hidup Warga Semarang Meningkat Tajam
Upacara Ngaben di Bali Tunjukkan Contoh Adaptasi Kebiasaan Baru