Mitos atau Fakta, Merokok Bisa Meredakan Stress

photo author
Andi Baskoro Wirawan, TitikTemu.co
- Sabtu, 18 September 2021 | 15:07 WIB
Ilustrasi orang menikmati rokok untuk meredakan stress ( Foto : Halodoc)
Ilustrasi orang menikmati rokok untuk meredakan stress ( Foto : Halodoc)

 

TITIKTEMU.CO, Jakarta – Saat ini trend merokok pada usia produktif mempunyai kecenderungan meningkat, ditambah dengan kondisi saat ini yang membuat orang merasa dengan merokok bisa meredakan stress.

Padahal sebaliknya, merokok mempunyai efek bagi masalah kesehatan seperti penyakit paru-paru, jantung sampai kanker. Anjuran berhenti merokok yang mudah ditemui di ruang publik, layanan kesehatan dan media massa pun tidak lagi mempan.

Saat seseorang merokok, asap rokok yang mengandung nikotin akan mencapai otak dalam waktu sekitar sepuluh detik, seketika meningkatkan suasana hati dan konsentrasi, mengurangi kemarahan dan stress, rileks otot dan nafsu makan turun. Kondisi tersebut ternyata hanya bersifat sementara, karena dalam waktu lama dan terus menerus, justru akan timbul masalah kesehatan dan kecanduan.

Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Insomnia, Dijamin Mudah Terlelap

 

Benarkah Merokok Bisa Meredakan Stres?

Merokok sebaliknya justru menciptakan rasa cemas dan ketegangan. Berdasar penelitian yang dilansir dari laman Mental Health,  Nikotin menciptakan rasa relaksasi secara langsung, sehingga perokok berkeyakinan kalau nikotin mengurangi stres dan kecemasan.

Perasaan ini bersifat sementara, yang muncul selanjutnya adalah gejala penarikan serta keinginan yang meningkat untuk merokok terus-menerus.

Otak lambat laun akan berubah menanggapi nikotin, yang malah akan muncul gejala penarikan ketika pasokan nikotin berkurang. Merokok untuk sementara mengurangi gejala penarikan dan justru memperkuat kebiasaan merokoknya.

Baca Juga: Gendut? Cobalah 7 Jenis Minuman yang Bisa Menurunkan Berat Badan Ini

 

Penelitian juga menunjukan kalau orang yang depresi dua kali lebih mungkin untuk merokok dibandingkan yang tidak depresi. Nikotin merangsang pelepasan zat kimia dopamin yang merangsang pemicu positif, tetapi pada orang depresi kandungan dopamin kecenderungan lebih rendah. Rokok menjadi cara sementara meningkatkan dopamin.

Namun, merokok justru mendorong otak mematikan mekanisme pembuatan dopamin yang dalam jangka panjang pasokannya pasokan berkurang tapi mendorong orang merokok lebih banyak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ersha

Tags

Rekomendasi

Terkini

X