TITIKEMU.CO - Protein bukan sekadar nutrisi biasa—ia adalah salah satu pilar utama tubuh, sejajar dengan karbohidrat dan lemak.
Kehadirannya vital untuk banyak fungsi, mulai dari mengangkut oksigen, menjaga sistem imun, membantu sinyal saraf, hingga menopang pertumbuhan otot dan jaringan tubuh.
Namun, muncul pertanyaan klasik: apakah konsumsi protein yang terlalu banyak bisa berbalik menjadi bumerang bagi tubuh kita?
Baca Juga: Ganti FOMO dengan JOMO: 3 Cara Menikmati Hidup Tanpa Ikut Tren
Berapa Banyak Protein yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Jawabannya tidak sesederhana satu angka. Kebutuhan protein berbeda pada setiap individu, dipengaruhi oleh berat badan, usia, gaya hidup, aktivitas fisik, hingga kondisi kesehatan.
Menurut standar Recommended Dietary Allowance (RDA), asupan protein minimal adalah 0,8 gram per kilogram berat badan.
Tapi, mereka yang aktif berolahraga atau sedang membentuk otot seringkali dianjurkan mengonsumsi lebih banyak—sekitar 1,2 hingga 2 gram per kilogram per hari.
Kelompok khusus seperti atlet, ibu hamil, menyusui, hingga lansia juga membutuhkan porsi protein ekstra untuk menunjang kesehatan mereka. Misalnya, ibu hamil rata-rata memerlukan sekitar 1,1 gram per kilogram berat badan.
Baca Juga: Cara Mengusulkan PIP Fase 2 di Dapodik 2026 oleh Sekolah Sebelum 31 Agustus 2025
Diet Tinggi Protein: Berbahaya atau Justru Menguntungkan?
Banyak orang khawatir kalau diet tinggi protein bisa merusak ginjal, melemahkan jantung, atau membuat tulang rapuh.
Tapi sains justru mengatakan sebaliknya.
Studi besar terhadap 12 ribu orang dewasa tidak menemukan hubungan antara konsumsi protein—baik hewani maupun nabati—dengan risiko penyakit jantung.