“Disebut klaster jika kontak erat pada label satu dan dua positif. Tracing 30 kontak erat sekolah, pengantar sekolah, keluarga hasilnya nihil,” jelas Abdul.
Baca Juga: Klaster Sekolah Covid-19 Marak, Wakil Ketua MPR: PTM Harus Dievaluasi Secara Menyeluruh
Dari 70 kasus pocoditif Covid-19 terbanyak ditemukan di Kecamatan Semarang Barat, kemudian Tembalang, Ngaliyan, dan Banyumanik.
Selanjutnya Semarang Utara, Semarang Timur, Pedurungan, Semarang Selatan, Gayamsari, Gunungpati, Semarang Tengah, dan Gajahmungkur.
Dari sisi usia terbanyak rentang usia 6-12 tahun (31 kasus), usia 13-15 tahun (23 kasus), rentang usia 16-18 (5 kasus) dan lebih dari 18 tahun (11 kasus).
Baca Juga: Strategi Cegah Klaster COVID-19 di sekolah saat PTM Menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin
"Yang paling banyak ada di SD. Mungkin karena belum vaksin. Ada faktor lain terutama yang CT valuenya 37, 38, 39, ternyata mereka satu bulan penyintas,” jelasnya.
Hingga saat ini pelajar usia di bawah 12 tahun memang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19.
Sementara itu sebagian pelajar yang terjangkit menjalani isolasi terpusat di rumah dinas wali kota untuk meminimalisir penyebaran kasus.
Dinkes merekomendasikan kepada Disdik untuk memberlakukan pembelajaran daring di sekolah yang ditemukan kasus. ***
Artikel Terkait
40 Siswa dari 8 Sekolah di Blora Positif Covid, Kadinkes : Bukan Klaster PTM
Muncul Klaster Baru Covid-19 Usai PTM, Gubernur Ganjar Minta Kemenag Tutup Sebuah Madrasah di Jepara
Cegah Klaster Sekolah, Gubernur Jateng Syaratkan Testing untuk PTM
Muncul Klaster Baru PTM, DPRD Purbalingga Memberi Warning Pemkab
Muncul Klaster Sekolah, Bupati Jepara Kembalikan Semua Sekolah ke Pembelajaran Daring
Klaster Sekolah Covid-19 Marak, Wakil Ketua MPR: PTM Harus Dievaluasi Secara Menyeluruh