TITIKTEMU.CO, Jakarta - Sekolah yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, hanya akan kembali belajar online selama 14 hari ketika memiliki tingkat positif di atas lima persen sebagai bagian strategi mencegah penyebaran COVID-19.
Hal itu disampaikan Menkes Budi dalam konferensi pers yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin (27/9/2021),
Lebih lanjut Menkes menjelaskan bahwa pemerintah akan secara aktif mencari kasus dengan tujuan surveilans dan menggunakan sampel.
Baca Juga: Tim Dokter RS Pusat Otak Nasional: Hipertensi Penyebab Tukul Arwana Pendarahan Otak
"Kita tentukan di tingkat kabupaten/kota berapa jumlah sekolah yang melaksanakan tatap muka dari situ kita ambil 10 persen untuk sampling kemudian dari 10 persen ini kita bagi alokasi berdasarkan kecamatan," kata Menkes Budi.
Alokasi berdasarkan kecamatan itu dilakukan, jelas Budi, karena para epidemiolog mengatakan penularan lebih berpotensi terjadi antarkecamatan dan karena itu wilayah epidemiologis per kecamatan harus diawasi dengan ketat.
Pemerintah kemudian akan melakukan pengujian PCR terhadap sampel 30 siswa dan 3 pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) per sekolah yang rutin dilakukan satu kali per bulan.
Baca Juga: Polisi Bongkar Peredaran Obat Keras Di Bantul, Sita Barang Bukti Puluhan Juta butir Obat Keras
Dari pengujian jika ditemukan kasus positif di sekolah di bawah satu persen maka pembelajaran tatap muka akan tetap berjalan untuk anggota kelas yang tidak terpapar. Tes akan dilakukan terhadap kontak erat dari yang terbukti positif dan semuanya dikarantina di rumah.
Untuk sekolah dengan tingkat positif 1-5 persen maka intervensi akan dilakukan dalam bentuk tes terhadap semua anggota rombongan belajar dan mereka akan menjalani karantina di rumah.
Pembelajaran tatap muka sendiri tetap berjalan untuk anggota kelas yang tidak terpapar.
Baca Juga: Pengembangan Program Aksi Ibu Pulang Bawa Akta Kelahiran (Si Bulan) di Kota Magelang
"Tapi kalau yang di atas lima persen, kita tesnya seluruh sekolah karena ada kemungkinan menyebar. Sekolahnya kita rubah dulu menjadi online, menjadi daring dulu selama 14 hari," jelas Budi, seperti dikutip dari Antara.
Menurut Budi, langkah tersebut memastikan bahwa surveilans dilakukan di level paling kecil dan jika terbukti ada penularan masif maka hanya sekolah tersebut yang akan ditutup. Sekolah dengan protokol kesehatan yang baik akan tetap melakukan pembelajaran tatap muka.***
Artikel Terkait
Kabar Ditemukan Klaster Covid 19 di PTM, Ini Jawaban Kadisdik Jabar
Ridwan Kamil Pastikan Belum Ada Klaster Covid-19 Selama PTM di Jabar, Begini Penjelasannya
PTM Munculkan Klaster Covid-19, Puan 'Tampar' Pemerintah Tidak Siap Jalankan Prokes
Ada 150 Klaster di Jabar, Ridwan Kamil : Bukan Data Klaster Covid-19 PTM Tapi Laporan Sekolah 14 Bulan Lalu
Nadiem Makarim Sebut Data Klaster Covid-19 Sekolah Banyak Erornya, Kok Bisa?