Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Selasa, 24 Agustus 2021 | 08:30 WIB
Ilustrasi Ken Arok (Pinterest.com)
Ilustrasi Ken Arok (Pinterest.com)

Berakhirnya Kutukan

Hampir separuh masa Kerajaan Singhasari diwarnai pertumpahan darah antar keluarga. Selain siasa-sisa keturunan Kertajaya, ada tiga trah yang berebut kekuasaan, yaitu Ken Arok-Ken Dedes, Ken Arok-Ken Umang, dan Ken Dedes-Tunggul Ametung.

Terakhir adalah ketika Tohjaya yang berhasil merebut tahta Singasari dari Anusapati. Menurut Pararaton, masa pemerintahan Tohjaya tidak bertahan lama. Dia dijatuhkan oleh Ranggawuni, anak Anusapati.

Bersekutu dengan Mahesa Campaka yang merupakan anak Mahesa Wong Ateleng, Ranggawuni berhasil membunuh Tohjaya dalam sebuah pertempuran. Pada 1248 Ranggawuni menduduki singgasana Singasari dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana.

Baca Juga: Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat

Ia kemudian menunjuk Mahesa Campaka menjadi ratu angabhaya atau pembantu utama raja yang berkuasa di Kediri. Mahesa Campaka menggantian ayahnya, Mahesa Wong Ateleng, dengan gelar Narasinghamurti. Pada masa pemerintahan mereka, tak ada lagi gejolak.

Masa kejayaan Singasari terjadi di masa pemerintahan Sri Kertanegara yang menggantikan ayahnya, Ranggawuni. Singasari berhasil membentuk Nusantara dengan memperluas wilayahnya hingga ke Melayu pada 1257.

Sri Kertanegara tumbang karena pemberontakan bupati Gelang-Gelang, Jayakatwang, yang masih terhitung sepupu, ipar, dan besannya sendiri.

Di luar perhitugan kerabat itu, Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya, raja terakhir Kediri yang digulingkan Ken Arok, leluhur Kertanegara.***

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X