Saat berkuasa, Dyah Suhita membalas dendam kematian kakeknya, Bhre Wirabumi, dengan menghukum mati Raden Gajah pada 1433.
Sejumlah sejarawan seperti Vlekke, Ricklefs, dan Lombard menyebut keruntuhan Majapahit akibat lemahnya kepemimpinan pasca Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Perang saudara yang berlarut-larut membuat Majapahit lemah, sehingga gagal mengontrol daerah taklukan.
Daerah-daerah bandara di pesisir utara Jawa mulai dari Gresik, Surabaya, Tuban, Rembang, Jepara, dan Demak pun membentuk negara sendiri.
Periode berikutnya masuk para wali yang menyebarkan agama Islam. Para pemeluk Hindu-Buda pun berpindah masuk Islam.
Ratu Suhita memerintah selama 20 tahun mulai 1427-1447 dilanjutkan oleh Kertawijaya, adik laki-lakinya yang memerintah sampai 1451. Bhre Pamotan kemudian menggantikan Kertawijaya dengan gelar Rajasawardhana selama dua tahun.
Selama tiga tahun tahta Majapahit kosong karena krisis pewaris tahta. Putra Kertajaya, Girisawardhana alias Bhre Wengker akhirnya naik takhta pada 1456 bergelar Hyang Purwawisesa. Seperti ayahnya, ia memberikan kedudukan penting kepada kalangan Islam.
Mangkat pada 1466, Bhre Wengker digantikan Singhawikramawardhana. Pada 1468 Bhre Kertabhumi merebut tahta Majapahit dari Singhawikramawardhana. Ia kemudian mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit bergelar Brawijaya V.
Saat kemunduran Majapahit semakin nyata, proses Islamisasi justru makin berkembang baik dari sisi budaya sampai politik. Muncul kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka. Armada laut Majapahit tidak lagi mampu mengontrol wilayah yang tersisa.***