Jasad Para Jenderal itu Ditemukan di Sumur Tua di  Lubang Buaya

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Minggu, 19 September 2021 | 20:49 WIB
Iring-iringan pembawa jenazah Pahlawan Revolusi menuju Taman Makam Pahlawan. ( pandjaitan.blogspot.co.id)
Iring-iringan pembawa jenazah Pahlawan Revolusi menuju Taman Makam Pahlawan. ( pandjaitan.blogspot.co.id)

Ditahan hampir dua hari, Sukitman bisa lolos karena tertidur di kolong truk. Ia yang kemudian memunjukkan lokasi penguburan di Lubang Buaya.

Baca Juga: Panglima TNI Mutasi dan Promosi Jabatan 21 Perwira Tinggi

Sebelumnya, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) –sekarang Kopasssus, sudah menebak lokasi pembantaian itu.

Pada Minggu 3 Oktober 1965, Komandan Kompi Tanjung Batalion 2 RPKAD Letnan Satu Feisal Tanjung sudah memerintahkan Letnan Dua Sintong Panjaitan, Komandan Peleton 1/A Kompi Tanjung, untuk memeriksa daerah Lubang Buaya.

Feisal tahu daerah itu merupakan basis ormas di bawah PKI, seperti Pemuda Rakyat, BTI (Barisan Tani Indonesia), dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

“Kamu periksa semua, di tempat itulah mereka disiksa. Kalau dibunuh juga di sekitar tempat itu,” perintah Feisal.

Percakapan itu tertulis dalam buku biografi “Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009).”

PKI memang menjadikan Lubang Buaya sebgai kamp latihan Pemuda Rakyat dan Gerwani. Pemuda Rakyat adalah organisasi sayap kanan PKI.

Dalam buku “Dalih Pembunuhan Massal”, John Roosa menulis pada 30 September 1965 malam tentara PKI berkumpul di Lubang Buaya.

Mereka mendapat perintah untuk menculik tujuh jenderal yang tergabung dalam Dewan Revolusi.

PKI menuduh Dewan Jenderal akan mengkudeta Soekarno pada Hari ABRI, 5 Oktober 1965.

Masih dalam bukunya, John Roosa menulis PKI S Parman, Mayjen Sutoyo, Piere Tendean masih hidup saat tiba di Lubang Buaya.

PKI kemudian menembak mereka berkali-kali. Sedangkan Ahmad Yani, MT Haryono, dan DI Panjaitan sudah dibunuh diculik dari rumah.

Jasad tujuh perwira diangkat pada Senin, 4 Oktober 1965. Malamnya disemayamkan di Aula Departemen Angkatan Darat di Jalan Merdeka Utara.

Enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD itu kemudian dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Revolusi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X