Selepas Subuh, Jasir membawa DN Aidit meninggalkan Solo menuju Semarang menggunakan iring-iringan tiga jip.
Baca Juga: Jangan Salah, Ini Beda Hari Lahir Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila
Aidit yang diborgol berada di jip terakhir bersama Jasir. Setiba di Boyolali, Jasir membelokkan jip-nya ke Markas Batalion 444.
Ia menggelandang Aidit, dan menanyakan letak sumur. Komandan Batalion 444 Mayor Trisno menunjuk sebuah sumur tua di belakang rumahnya.
Jasir menyeret pentlan PKI itu hiongga ke tepian sumur. Dia meminta Aidit mengucapkan pesan terakhir. Namun, gembong PKI itu justru pidato berapi-api.
Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno, dari Oetari hingga Ratna Sari Dewi
Jasir tak sabar. Dor! Peluru menembus dada Aidit. Tubuh Wakil Ketua MPRS itu terjungkal masuk sumur tua.
Sehari kemudian Jasir melaporkan tugasnya kepada Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta, termasuk ekeskusi terhadap Aidit, Soeharto tersenyum mendengarnya.
Setelah dihabisi, Pemerintah Orde Baru menetapkan DN Aidit sebagai pemberontak. Namun, sampai skearang kematiannya masih menjadi misteri.
Ia lahir 30 Juni 1923 di Tanjung Pandan, Belitung dengan nama Achmad Aidit sebagai putra sulung pasangan Abdullah Aidit dan Nyi Ayu Mailan.***