Selama tahun 1825 sampai 1826 pasukan Diponegoro selalu memenangkan pertempuran. Dalam sebuah serbuan di Delanggu, Diponegoro membuat pasukan Beanda kocar-kacir.
Pada tahun 1827 De Kock menerapkan siasat Benteng Stelsel dengan membangun sebanyak 200 benteng.
Sang Jenderal juga mengeluarkan sayembara dengan hadiah 500 ringgit bagi pengikut Diponegoro yang bersedia menyerah.
Hadiah 20.000 ringgit, gelar pangeran, sebidang tanah, dan gaji 10 ringgit per bulan bagi yang bisa menyerahkan Diponegoro, hidup atau mati.
Tapi Diponegoro mempunyai pengikut yang setia. Sejak itu, perang terus berkecamuk. Perang yang panjang dan melelahkan.***