historia

Diponegoro, Pangeran yang  Membuat Belanda Bangkrut

Minggu, 19 September 2021 | 08:30 WIB
Lukisan Pangeran Diponegoro, cat minyak, Delsy Sjamsumar . (Wikipedia)

Menolak Berunding

Kewalahan menghadapi Diponegoro, pada 1825 Smissaert mengundang Diponegoro untuk berunding. Namun, Sang Pangeran menolak datang.

Pada 20 Juli 1825 terjadilah kontak senjata pertama antara pasukan Diponegoro dengan tentara kolonial di Tegalrejo.

Pasukan Ontowiryo kalah jumah. Belanda mengepung dan kemudian membakar markas dan rumah Diponegoro.

Sang Pangeran dan sebagian besar pengikutnya berhasil lolos. Mereka menuju Selarong yang akhirnya menjadi markas baru.

“Di Selarong itulah Diponegoro mengikrarkan perang melawan Belanda,” tulis Carey.

Kabar perang yang dikobarkan Diponegoro sampai ke keraton. Sebagian kalangan keraton menyusul ke Selarong dan menyatakan bergabung.

Insiden Tegalrejo membuat Gubernur Van der Cepellen marah. Dia memerintahkan Jenderal De Kock untuk menumpas pemberontakan Diponegoro.

Pada 30 Juli 1825, De Kock meminta bantuan Pakubuwana VI. De Kock juga mengirimkan pasukan dari Semarang.

Namun, pasukan yang dipimpin Kapten Keemsius itu disergap pasukan Diponegoro. Sebanyak 200 prajurit Belanda terbunuh, uang 50.000 gulden dirampas.

Kemenangan demi kemenangan pasukan Diponegoro akhirnya menyulut perlawanan di beberapa daerah terhadap pemerintah kolonial Belanda di Jawa.

Di Kedu, pasukan Bulkiya yang dipimpin oleh Sentot dan Haji Abdulkabir beberapa kali memukul mundur pasukan Belanda.

Bupati Magelang Tumenggung Hadiningrat yang berada di pihak Belanda terbunuh dalam pertempuran. Di Menoreh, Bupati Ario Sumodilogo mengalami nasib sama.

Pasukan Belanda kemudian mengadakan serangan besar-besaran ke Selarong pada 2 Oktober 1825. Namun markas sudah kosong. 

Pangeran Diponegoro memindahkan pasukannya ke Dekso. Sementara wanita,anak anak, dan orang tua diungsikan ke Suwela.

Halaman:

Tags

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB