TITIKTEMU.CO-Beberapa tahun terakhir, terapi, mindfulness, journaling, dan berbagai praktik kesehatan mental menjadi bagian dari gaya hidup generasi urban terdidik. Ironisnya, di tengah meningkatnya kesadaran emosional, muncul fenomena yang cukup menarik: generasi yang paling rajin terapi justru sering dianggap paling susah minta maaf.
Tentu ini bukan berarti terapi membuat seseorang menjadi egois. Sebaliknya, terapi terbukti membantu banyak orang memahami emosi, trauma, dan pola hubungan yang tidak sehat. Namun ada satu pertanyaan yang mulai muncul dalam berbagai diskusi psikologi dan budaya modern: apakah bahasa self-help terkadang dipakai untuk menghindari tanggung jawab?
Baca Juga: Dari KJMU ke Kampus Dunia? Jakarta Siapkan Jalur Beasiswa yang Bisa Bawa Mahasiswa Sampai S3
Ketika Bahasa Psikologi Menjadi Tameng
Dulu, seseorang mungkin berkata, "Saya marah karena kamu membuat saya kesal."
Sekarang, kalimatnya bisa berubah menjadi, "Saya sedang menjaga batasan pribadi saya."
Masalahnya bukan pada konsep batasan pribadi atau boundaries itu sendiri. Konsep tersebut sangat penting dan didukung oleh banyak penelitian psikologi. Yang menjadi persoalan adalah ketika istilah psikologis digunakan sebagai perisai untuk menghindari refleksi diri.
Alih-alih mengakui kesalahan, seseorang bisa dengan mudah membingkainya sebagai bentuk self-care, healing process, atau perlindungan terhadap kesehatan mentalnya.
Akibatnya, percakapan yang seharusnya mengarah pada rekonsiliasi justru berubah menjadi kompetisi siapa yang paling terluka.
Baca Juga: Nggak Semua Orang Perlu Jadi Entrepreneur — dan Ini Bukan Pembelaan untuk Malas
Budaya Self-Help dan Obsesi Memahami Diri Sendiri
Keyword utama dalam fenomena ini adalah budaya self-help.
Buku, podcast, konten media sosial, hingga seminar pengembangan diri hampir selalu menempatkan individu sebagai pusat cerita. Fokus utamanya adalah memahami diri sendiri, menyembuhkan luka masa lalu, dan menemukan versi terbaik dari diri kita.
Semua itu tentu bermanfaat.
Namun ada efek samping yang jarang dibahas: ketika perhatian terhadap diri sendiri menjadi terlalu dominan, kemampuan melihat perspektif orang lain bisa ikut melemah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal psikologi sosial menunjukkan bahwa empati tidak hanya membutuhkan kesadaran diri, tetapi juga kemampuan keluar dari sudut pandang pribadi untuk memahami pengalaman orang lain.
Artikel Terkait
Vonis Nadiem Makarim 10 Tahun Penjara: Hakim Sebut Pengadaan Chromebook Untungkan Google, Ini Pertimbangan Lengkapnya
Kilas Balik Kasus Korupsi Chromebook Nadiem Makarim: Dari Penetapan Tersangka hingga Divonis 10 Tahun Penjara
Lee Dong Wook Bangkit dari Kematian? Fakta Season 2 A Shop for Killers yang Bikin Fans Tidak Tenang
Kenapa Kemarau Tahun Ini Terasa Lebih Kejam? Banyak Orang Ternyata Masih Salah Paham soal El Nino
Respons Nadiem Makarim usai Divonis 10 Tahun Penjara: Soroti Sikap Hakim hingga Singgung Dissenting Opinion
Honda Tersandung untuk Pertama Kalinya dalam Hampir 70 Tahun, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
B50 Segera Meluas, Tapi Tunggu Dulu! Tidak Semua Mobil Diesel Aman Menggunakannya