Kenapa Makin Banyak Pasangan Muda Jakarta Pilih Nggak Beli Rumah — dan Itu Masuk Akal

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Senin, 29 Juni 2026 | 22:10 WIB
Ilustrasi Kenapa pasangan muda Jakarta memilih nggak beli rumah?  (Desain AI)
Ilustrasi Kenapa pasangan muda Jakarta memilih nggak beli rumah? (Desain AI)

TITIKTEMU.CO-Selama puluhan tahun, membeli rumah dianggap sebagai simbol kesuksesan orang dewasa. Menikah, punya pekerjaan tetap, lalu mencicil rumah selama 15–20 tahun seolah menjadi jalur hidup yang wajib diikuti. Namun, di Jakarta hari ini, semakin banyak pasangan muda yang memilih jalan berbeda: tidak membeli rumah.

Keputusan ini sering dianggap aneh oleh generasi sebelumnya. Padahal jika dilihat dari kondisi ekonomi, harga properti, dan gaya hidup urban saat ini, pilihan untuk menyewa atau renting justru semakin masuk akal.

Bukan karena mereka tidak mampu bermimpi. Justru karena mereka mulai menghitung dengan lebih realistis.

Baca Juga: 5 Tahun Lagi Jakarta Akan Seperti Apa? Ini Proyeksi Ilmiahnya

Harga Rumah Jakarta Naik Lebih Cepat dari Pendapatan

Salah satu alasan terbesar adalah matematika sederhana.

Harga rumah di Jakarta dan wilayah penyangga terus meningkat dalam dua dekade terakhir. Sementara itu, kenaikan gaji pekerja muda tidak selalu mampu mengejar laju harga properti.

Tidak sedikit pasangan yang harus menyiapkan uang muka ratusan juta rupiah hanya untuk mendapatkan rumah yang lokasinya jauh dari pusat aktivitas mereka. Setelah itu, mereka masih harus menghadapi cicilan belasan hingga puluhan tahun.

Bagi banyak milenial, pertanyaannya bukan lagi "kapan beli rumah?" melainkan "apakah membeli rumah benar-benar keputusan finansial terbaik?"

Baca Juga: Kenapa Profesional Bergelar Tinggi Mulai Memilih Hidup di Kota Kecil?

Pro-Renting Bukan Berarti Anti Investasi

Ada anggapan bahwa menyewa rumah sama saja dengan membuang uang. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Banyak pasangan muda mulai menerapkan konsep yang dikenal sebagai "rent and invest". Alih-alih menghabiskan sebagian besar pendapatan untuk cicilan rumah, mereka memilih menyewa hunian yang dekat kantor lalu mengalokasikan selisih dana ke instrumen investasi seperti reksa dana, obligasi, atau saham.

Dalam beberapa kasus, hasil investasi jangka panjang bahkan bisa lebih kompetitif dibanding pertumbuhan nilai properti, terutama jika rumah yang dibeli berada di lokasi yang kurang strategis.

Karena itu, keputusan menyewa bukan selalu soal keterbatasan dana. Kadang justru merupakan strategi keuangan yang lebih fleksibel.

Baca Juga: Rp 30 Juta Habis untuk Baris-Berbaris? Usulan Penghapusan Latsarmil Kopdes Buka Perdebatan Baru

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X