TITIKTEMU.CO-Ada orang yang santai membuka aplikasi bank setiap pagi. Ada juga yang melihat ikon mobile banking saja sudah ingin menutup layar. Bukan karena lupa PIN, melainkan karena takut melihat angka saldo yang mungkin jauh lebih kecil dari harapan.
Fenomena ini dikenal sebagai financial avoidance, yaitu kecenderungan menghindari informasi atau aktivitas keuangan karena memunculkan rasa takut, malu, stres, atau kewalahan.
American Psychological Association (APA) memasukkan kebiasaan seperti menghindari rekening koran, tagihan, hingga pembicaraan soal uang sebagai tanda financial avoidance.
Baca Juga: Keuangan Setelah Menikah: Siapa yang Pegang Uang, Siapa yang Buat Keputusan?
Financial Avoidance: Saat Menghindar Terasa Lebih Aman
Secara psikologis, menghindari sesuatu yang membuat cemas memang bisa memberikan rasa lega untuk sementara. Masalahnya, otak kemudian belajar bahwa “tidak melihat uang = tidak perlu merasa cemas”.
Inilah yang membuat siklusnya sulit diputus. Hari ini seseorang melewatkan pengecekan saldo karena takut. Besok tagihan kembali diabaikan. Minggu berikutnya, masalah finansial sudah bertambah besar dan rasa takut untuk mengeceknya justru makin kuat.
Dalam psikologi, pola tersebut berkaitan dengan avoidance coping, yaitu cara menghadapi tekanan dengan menjauh dari sumber masalah alih-alih menghadapinya secara langsung.
Baca Juga: Keuangan Syariah Bukan Cuma untuk yang Religius — Ini Logika Bisnis yang Membuatnya Terus Tumbuh
Kenapa Melihat Saldo Bisa Terasa Menakutkan?
Bagi sebagian orang, angka di rekening bukan sekadar angka. Saldo bisa terasa seperti penilaian terhadap keberhasilan hidup: “Aku gagal mengatur uang”, “Aku terlalu boros”, atau “Bagaimana kalau uangnya tidak cukup sampai akhir bulan?”
Tekanan semacam ini bisa semakin kuat ketika kondisi keuangan memang sedang sulit. Sebuah eksperimen yang diterbitkan dalam Psychological Research menemukan bahwa peserta yang mengalami kondisi finansial terbatas lebih mungkin menunda pembayaran dalam tugas pengelolaan keuangan.
Jadi, menghindari rekening tidak selalu berarti seseorang malas mengatur uang. Bisa saja ada kecemasan yang membuat aktivitas sederhana terasa seperti membuka pintu menuju kabar buruk.
Baca Juga: Money Anxiety Makin Parah! Kenapa 69% Orang Depresi Karena Masalah Keuangan?
Budgeting Justru Bisa Terasa Seperti Ancaman
Ironisnya, orang yang paling membutuhkan budgeting terkadang justru paling sulit memulainya.
Membuka catatan pengeluaran berarti harus melihat kenyataan: cicilan masih ada, saldo menipis, pengeluaran tidak terkendali, atau target menabung kembali gagal. Akibatnya, seseorang memilih “nanti saja”.
Artikel Terkait
Money Anxiety Makin Parah! Kenapa 69% Orang Depresi Karena Masalah Keuangan?
Generasi Paling Melek Teknologi, Tapi Paling Buta Keuangan? Paradoks Gen Z yang Mengejutkan
Buku Keuangan Populer Itu Salah? Ini 5 Saran yang Tidak Berlaku di Indonesia
Keuangan Syariah Bukan Cuma untuk yang Religius — Ini Logika Bisnis yang Membuatnya Terus Tumbuh
Cara Atur Keuangan sebagai Ibu Rumah Tangga Tanpa Penghasilan Sendiri: Tetap Punya Kendali atas Masa Depan
Keuangan Setelah Menikah: Siapa yang Pegang Uang, Siapa yang Buat Keputusan?