Celakanya, belum semua perusahaan menempatkan independensi sebagai bagian penting kredibilitas suatu media. Di tingkat ruang redaksi, independensi juga menjadi masalah. Dia mencontohkan tidak ada jaminan media massa bisa independen bila pemimpinnya independen.
Baca Juga: Seorang Pengeroyok Wartawan Hingga Tewas, Ditangkap Polisi
Ruang redaksi bisa independen bila orang-orang dalam ruang redaksi itu bersikap egaliter. “Keputusan tidak boleh di tangan satu orang, tapi sidang redaksi yang egaliter,” kata Arif.
Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk itu mengapresiasi riset Gilang sebagai otokritik terhadap pers. Dia memberi catatan terhadap riset tersebut agar tidak mencampuraduk obyektivitas, netralitas, dan independensi.
Objektivitas bicara fakta sesuai yang dilihat, netralitas tidak memihak, dan independensi tidak dipengaruhi oleh apapun. Arif menyarankan agar periset memisahkan ketiganya supaya lebih tajam karena bisa jadi media yang diteliti tidak independen dan tidak obyektif.
Baca Juga: Mardani Maming Masuk DPO KPK. Harun Masiku Terus Diburu
Menurut dia, independensi juga dipengaruhi oleh sejarah dan kultur media tersebut. Keyakinan secara organisasi mempengaruhi independensi media tersebut. Arif merekomendasikan kolaborasi liputan untuk mengatasi persoalan independensi. “Liputan kolaboratif mengungkap skandal korupsi bisa jadi contoh,” katanya. ***
Artikel Terkait
Resmi Menjadi Menwa! 80 Mahasiswa Yogyakarta Selesaikan Pendidikan Dasar Bela Negara di Puslatpur, Klaten
Gubernur DIY Minta Aparat Hukum Tegas Menindak Pelaku Peristiwa Babarsari
Pelecehan Seksual Suporter Bola Terhadap Jurnalis Liputan6.com di Yogyakarta Tuai Kecaman
Nah CCTV Baku Tembak Polisi di Rumah Kadiv Propam Ditemukan. Kasus Tewasnya Brigadir J Makin Benderang
Upacara Ganti Dwaja Bregada Jaga, Prosesi Pergantian Prajurit Penjaga di Kadipaten Pakualaman Yogyakarta
1.200 Personel Kepolisian akan Diterjunkan, Amankan Autopsi Jenazah Brigadir J
Panglima TNI: Kopda M Jadi Dalang Penembakan Istrinya, Kini Buron akan Terus Dikejar