Upacara Ganti Dwaja Bregada Jaga, Prosesi Pergantian Prajurit Penjaga di Kadipaten Pakualaman Yogyakarta

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Jumat, 22 Juli 2022 | 12:29 WIB
Upacara Adat Ganti Dwaja dan Kirab Keliling Alun-alun Pakualaman (Dinas Pariwisata DIY)
Upacara Adat Ganti Dwaja dan Kirab Keliling Alun-alun Pakualaman (Dinas Pariwisata DIY)

TITIKTEMU.CO, YOGYAKARTA - Kota Jogjakarta dikenal sebagai kota wisata. Beragam jenis wisata ada di kota pelajar ini, baik wisata kuliner, wisata pantai, wisata pegunungan dan yang istimewa adalah wisata budaya. Seperti diketahui di Yogyakarta terdapat dua keraton yang tradisinya yang kuat yakni Keraton Yogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

Di penghujung bulan Juli ini, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya serta wisatawan disuguhi pelaksanaan tradisi budaya di Pakualaman. Kadipaten Pakualaman bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta akan menyelenggarakan upacara Ganti Dwaja Bregada Jaga, pada hari Sabtu 23 Juli 2022.

Upacara adat Ganti Dwaja Bregada Jaga adalah prosesi pergantian prajurit penjaga yang disimbolkan melalui serah terima bendera kesatuan.

Baca Juga: Model Internasional Paula Verhoeven pun Ikut Melenggang di Citayam Fashion Week

Salah satu keunikan acara ini, yaitu hanya dilakukan setiap 35 hari sekali atau setiap selapan, tepatnya pada Sabtu Kliwon.

Rangkaian kegiatan akan digelar di Kagungan Dalem Alun-alun Sewandanan, Kadipaten Pakualaman yang berlokasi di Jalan Sultan Agung, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara akan berlangsung dari pukul 14.30 hingga 17.30 WIB dan pengunjung yang hadir tetap dihimbau untuk mematuhi protokol kesehatan.

Setelah upacara inti selesai, akan dilanjutkan dengan kirab keliling alun-alun oleh pasukan penjaga keraton Pakualaman, Sabtu sore.

Baca Juga: Astaga, Nikita Mirzani Ditangkap di Mal, Sang Anakpun Menangis

Selain menjadi saksi dalam prosesi pergantian prajurit keraton Yogyakarta, pengunjung juga dapat menikmati berbagai kesenian daerah yang juga dihadirkan dalam acara ini. Atraksi budaya berupa Tari Mangastuti dan Jathilan Putri-Putra Turonggo Suro disuguhkan untuk memeriahkan upacara.

Gambaran perilaku manusia dalam meraih keselamatan hidup di dunia dapat dinikmati melalui Tari Mangastuti yang merupakan salah satu tarian khas Yogyakarta. Sedangkan hiburan Jathilan Putri-Putra Turonggo Suro serupa dengan penampilan kuda lumping.

Baca Juga: Kasus Dugaan Penganiayaan Ade Ratna Sari, Tersangka Ternyata Seorang Model

Masyarakat umum dapat langsung hadir pada wisata budaya yang hanya diselenggarakan 35 hari sekali ini tanpa pungutan biaya. Berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia dipersilakan untuk menikmati rangkaian acara.

Acara ini bertujuan agar tradisi khas Yogyakarta tetap terjaga hingga generasi mendatang, merekatkan hubungan pihak keraton dengan masyarakat, dan menarik wisatawan untuk mengenal tradisi khas Yogyakarta (Mauliddhia Cinta).***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X