Sub Koordinator Seksi Olahraga Rekreasi dan Industri Olahraga Disporapar Jateng Anton Asviani mengatakan, pelatihan tersebut dilakukan untuk menggelorakan wisata olahraga. Hal itu tak lepas dari potensi sport tourism yang dapat dikembangkan di penjuru Jawa Tengah.
Baca Juga: BULAN DI ATAS OMAH PETROEK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Ia menyebut, terdapat event sport tourism di Jateng yang bersifar masif. Seperti Borobudur Marathon atau Tour De Borobudur, yang sekaligus memunyai manfaat ekonomi tinggi.***
“Sport tourism (wisata olahraga) di Jawa Tengah potensinya besar. Inisiatif kami agar orang yang mau berwisata mau datang karena ada sesuatu yang unik, satu di antaranya olahraga tradisi jemparingan,” ucap Anton.
Menurutnya,, di Jateng banyak terdapat olahraga tradisi. Seperti jemparingan, egrang, dan sebagainya, yang dapat dibungkus sepaket dengan kunjungan destinasi wisata.
“Inisiatif kita untuk angkat olahraga tradisional, karena potensi alam di sekitar bisa dibikin alat olahraga. Seperti gendewa (busur) jemparingan dari bambu petung. Itu bisa jadi suvenir olahraga dan suvenir pariwisata. Bisa juga dijadikan paket wisata,” urainya.
Seorang peserta dari Ikatan Guru Olahraga Nasional (Igornas) Angga Raditya bersyukur dapat mengikuti latihan tersebut. Ia akan menularkan ilmu yang didapat kepada murid-muridnya.
Sementara itu, Pengelola Omah Alas Masduki berharap agar olahraga jemparingan dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata.
“Setelah Covid-19 harapannya jemparingan dapat dijadikan paket di Omah Alas. Di sini pun olahraga tradisionalnya sudah banyak dikembangkan,” pungkas Masduki.
Artikel Terkait
Terus Dikebut, Pembangunan Fasilitas Olahraga di Kota Semarang
Desa Carangsari Pemenang Pertama Anugerah Desa Wisata, Ini Keunikannya
Desa Wisata Nglanggeran Memang Menakjubkan, Ini 5 Objek Wisata yang Ditawarkan
Desa Wisata Kembang Arum Sleman, Lokasi Ideal Buat Outbond
Gelar Safety Riding di Sirkuit Mijen, HDCI Dukung Kebangkitan Ekonomi & Pariwisata di Kota Semarang