Novel pertama residensi Gin Teguh berjudul Tapak Jalai. Kisahnya tentang remaja laki-laki bernama Jalai yang mengalami perjalanan spiritual ketika mengikuti acara perkemahan sekolah di tepi hutan. Ia terus-terusan mendengar suara-suara yang mengantarkannya masuk jauh ke dunia yang sebenarnya saling terhubung dengan peristiwa-peristiwa penting semasa kecil, termasuk dengan sesuatu yang istimewa yang telah ada dalam dirinya.
Novel Tapak Jalai terinspirasi dari cerita-cerita yang didapatkan Gin semasa riset dan bertemu dengan anak suku Sakai, suku yang belakangan mulai tergerus oleh perkembangan zaman dan tidak banyak lagi yang bertahan dengan segala tradisinya. Terlebih, terkait isu lingkungan yang sebenarnya sensitif.
Gin sudah sangat rapi menyusun kerangka dan lainnya untuk memudahkan penulisan 2 novel dalam waktu singkat. Namun, energinya habis di novel pertama, sehingga membuat novel kedua ditulis dengan sedikit terseok-seok, meski pada akhirnya selesai juga.
Baca Juga: Pengalaman Dewi Cholidatul Ummah, Mantan Jurnalis Yang Menjadi Penulis Di Nias
Novel kedua berjudul Syair Laut Shah Alam. Novel ini awalnya diniatkan sebagai pengobat energi yang sudah habis. Karenanya, Gin memasukkan unsur syair melayu. Dipikirnya, bisalah ceritanya sederhana saja, lalu disisipkan syair-syair yang selama di Dumai sudah dirancang sedemikian rupa berdasarkan hasil riset. Nyatanya, novel ini justru makin menguras energi Gin.
Siapa menyangka novel kedua malah menarik kegelisahan Gin tentang isu perempuan Melayu yang tidak boleh melaut. Alasannya cukup bias, dan memilih keselamatan perempuan dan marwah sebagai perempuan yang kodratnya di rumah, membuat Gin makin gelisah.
Sehingga, novel ini kemudian disengajakan mengambil tokoh perempuan muda melayu bernama Seroja, yang bercita-cita sebagai pelaut, tetapi terhalang kodrat dan tradisi melayu yang kuat. Gin memilih kematian Shah Alam, kakek Seroja, sebagai pemantik gejolak Seroja dalam mempertanyakan mimpinya sebagai pelaut. Seharusnya tak ada yang boleh menghalangi mimpinya, terlebih juga sebenarnya tak ada yang peduli dengan keberlangsungan para pelaut di pesisir Dumai yang semakin tersingkir. Lagi-lagi, isu lingkungan dan kemajuan zaman.
Sebenarnya, Gin mengharapkan kedua novel residensinya itu akan bergaya surreal dan fantastis, sama seperti buku-buku kegemarannya. Hanya saja, keterbatasan yang dimiliki, membuat setidaknya menyuarakan kegelisahan Gin terhadap isu pencarian jati diri terlebih dulu. Dengan gaya penulisan yang sedikit realis.
Baca Juga: HAKIM AGUNG KAHARDIMAN, Perwira Nasib Baik Yang Sempat Jadi Kamus Hukumnya LB Moerdani
Novel novel ini sebenarnya adalah tahun kembalinya Gin Teguh menulis buku-buku, setelah beberapa tahun berkutat di dunia penulisan skenario dan penyutradaraan film.
Ini adalah buku kesebelas dan kedua belas Gin. Atau untuk novel, adalah novel keempat dan kelima saya. Novel pertamanya terbit di tahun 2014, berjudul Bulan Merah. Novelnya bergenre roman sejarah berlatar musik keroncong dan era perjuangan.