TITIKTEMU.CO, Penulis Gin Teguh terlahir dengan nama lengkap Ginanjar Teguh Iman. Penulis Indonesia asal Magelang yang melahirkan novel dan cerita-cerita pendek. Karena memiliki latar belakang pendidikan keguruan membuatnya aktif menulis buku-buku anak.
Di luar kepenulisan buku, Gin Teguh adalah penulis skenario dan sutradara film. Dua film pendek terakhir yang ditulis dan disutradarainya bertema anak-anak, yang mendapatkan dukungan pendanaan dari kompetisi produksi film yang diselenggarakan oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbud serta Europe on Screen
Dalam dunia kepenulisan buku anak, Gin Teguh beberapa kali terpilih sebagai peserta dalam lokakarya. Termasuk menjadi salah satu penulis Gerakan Literasi Nasional yang diselenggarakan Badan Bahasa Kemendikbud di tahun 2022 dan 2024. Dengan banyaknya karya membawa kesempatan menjadi sebagai salah satu dari 25 Penulis Terpilih Residensi Buku Anak di Daerah 3T.
Gin Teguh semula memiliki ekspektasi tinggi terhadap daerah yang menjadi tujuan residensi dan berharap mendapatkan daerah yang cukup terpencil atau terluar. Namun, rupanya ia mendapatkan lokus di Dumai, provinsi Riau.
Baca Juga: Gusti Trisno Menjadikan Menulis Sebagai Wadah Komunikasi Padamulanya
Namun alangkah terkejutnya ketika sampai di Dumai, Gin udah disambut kepadatan lalu lintas dan pusat perbelanjaan, bahkan mall lengkap dengan studio besar pemutaran film.
" Jujur, itu membuat saya tidak memiliki bayangan sama sekali tentang cerita apa yang akan saya tulis. Akan tetapi, saya percaya betul bahwa pasti akan menemukan cerita, " kata Gin.
Namun pengalaman selama di sana sebenarnya tidak terlalu bagaimana. Semua berjalan terasa biasa saja. Tidak banyak hal yang ditemui Gin. Bahkan, beberapa pihak yang dikenalkan kepada saya sepertinya tidak terlalu membantu.
" Jelaslah itu sedikit membuat khawatir, mengingat kawan-kawan residensi lainnya sudah berbagi kisah dan tempat-tempat yang menarik. Sedangkan saya, masih berkutat dengan mencari narasumber atau tempat yang sebaiknya saya kunjungi," tutur Gin.
Gin pun mencoba menyerahkan pada semesta , mengikuti alur, dan berupaya menikmati hari-hari di sana. Sembari secara tipis-tipis mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk kerangka cerita dari beberapa hari bertemu dengan orang-orang yang sebenarnya cukup acak.
Dari hari-hari yang kurang berkesan, Gin lalu mencoba menggali lebih dalam tentang Dumai dengan mencari sudut pandang lain, hingga bertemulah tema dan cerita apa yang mau kembangkan. Sebenarnya Gin cukup kaget, karena akhirnya cerita yang ditulis adalah cerita yang di awal-awal memang ingin ditulisnya.
Baca Juga: Penulis Purwokerto Evi Z Indriani Kagum Dengan Orang Maluku Yang Mempunyai Toleransi Tinggi
Dumai, yang lekat dengan pesisir dan hutan pedalaman, membuatnya riset-riset awal mengarahkan novel tentang hutan pedalaman dengan suku Sakai, dan tentang pesisir dengan suku Akit. Namun, setelah berhari-hari tidak menemukan titik terang, dan narasumber yang makin jauh dari bayangan, Gin sempat kebingungan karena sepertinya harus mencari cerita lain.
Hingga pada satu hari, semesta mengantarkan Gin kembali pada cerita awal, meski untuk pesisir, Gin terpaksa mengubah latar belakang sukunya yang dari suku Akit menjadi suku Melayu.
Artikel Terkait
Kisah Penulis Yogyakarta Tria Ayu Berburu Bahan Novel Di Sumba
Penulis Purwokerto Sulung Haryanto Rela Tinggal Di Papua Untuk Novel Remajanya
Pengalaman Dewi Cholidatul Ummah, Mantan Jurnalis Yang Menjadi Penulis Di Nias
Cerita Desi Pupitasari , Penulis Yogya Yang Mengejar Isu Sepakbola Di Merauke
Penulis Purwokerto Evi Z Indriani Kagum Dengan Orang Maluku Yang Mempunyai Toleransi Tinggi
Gusti Trisno Menjadikan Menulis Sebagai Wadah Komunikasi Padamulanya