Penulis Purwokerto Evi Z Indriani Kagum Dengan Orang Maluku Yang Mempunyai Toleransi Tinggi

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Jumat, 27 Desember 2024 | 14:30 WIB
Penulis Evi Z Indriani di tempat penyulingan minyak kayu putih (Ist)
Penulis Evi Z Indriani di tempat penyulingan minyak kayu putih (Ist)

TITIKTEMU.CO, Tinggal untuk sementara  waktu di Kabupaten Seram Bagian Barat (SSB)  adalah tantangan untuk penulis wanita asal Purwokerto, Evi Z Indriyani.  Maklum SSB yang merupakan salah satu Kabupaten di Maluku ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Maluku Tengah.

Meski termasuk daerah terluar namun masyarakatnya sangat beragam latar belakang, baik suku maupun agama. Evi yang tinggal di  di Piru, ibukota kabupaten SBB sempat kaget. Pasalnya warga Piru  mayoritas memeluk agama Kristen. Hari Minggu pertama, Evi kesulitan mencari makan. Warung padang, warung nasi, warung baso, yang biasanya jadi pilihan tutup semua. Ternyata di Hari Minggu mereka libur karena mereka pergi ke gereja.

" Jangankan makan. Ojek juga jarang sekali di hari minggu, pos ojeknya juga kosong. Saya terpaksa makan roti dan Pop mie," katanya kepada Titiktemu.co. sambil tersenyum.

Baca Juga: Pengalaman Dewi Cholidatul Ummah, Mantan Jurnalis Yang Menjadi Penulis Di Nias

Evi tinggal di SBB bukan tanpa alasan, ia diundang Pusat Pembinaan Bahasa Dan Sastra untuk residensi bersama 24 penulis lain di daerah 3T selama tiga minggu untuk menghasilkan novel remaja bernuansa budaya lokal.

Evi menulis  cerita berlatar belakang bencana Bahaya Seram, th 1899, karena  wilayah Kepulauan Maluku sangat rawan bencana gempa dan tsunami dan ada daerah yang terdampak ada di area SBB yaitu Desa Elpaputih dan Hatusua. Uniknya bencana yang terjadi pada tahun 1764  terdokumentasi dg baik oleh seorang ilmuwan Belanda, tapi tidak ada catatan bagaimana dampaknya di area yg sekarang. Di Hatusua sendiri  sampai sekarang gempa diikut tsunami ini tabu dibicarakan.

Saat melakukan riset di bulan Agustus Evi  agak sulit u melakukan riset lapangan . Ini dikonfirmasi oleh pendamping dari Kantor Bahasa Maluku Benny Arnas yang juga  peserta Sastrawan Berkarya th 2018.

Baca Juga: Cerita Desi Pupitasari , Penulis Yogya Yang Mengejar Isu Sepakbola Di Merauke

" Jadinya saya lebih banyak riset lewat jurnal. Saya sampai ke Balai Arkeologi untuk dapat jurnal-jurnal  ini karena kalau  cari lewat internet tidak mendapat  dapat akses," kata Evi menceritakan kesulitannya.

Novel kedua adalah tentang konflik Ambon. Ini berangkat dari kekaguman Evi kepada orang Maluku yang punya sikap toleransi yang luar biasa kuat, baik sebelum maupun setelah konflik Ambon. Sikap toleransi ini tidak berubah dan kembali utuh meski telah dicabik konflik ambon 1999-2002.

Ini menunjukkan kemampuan local wisdom bernama pela gandong dalam membantu upaya rekonsiliasi

Evi sendiri sebagai penulis mempunyai misi yang disampaikan lewat novel ini, yaitu ingatan kolektif tetap diperlukan meski teknologi telah mengalami kemajuan pesat.

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: AB Soleh

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X