TITIKTEMU.CO, Tinggal untuk sementara waktu di Kabupaten Seram Bagian Barat (SSB) adalah tantangan untuk penulis wanita asal Purwokerto, Evi Z Indriyani. Maklum SSB yang merupakan salah satu Kabupaten di Maluku ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Maluku Tengah.
Meski termasuk daerah terluar namun masyarakatnya sangat beragam latar belakang, baik suku maupun agama. Evi yang tinggal di di Piru, ibukota kabupaten SBB sempat kaget. Pasalnya warga Piru mayoritas memeluk agama Kristen. Hari Minggu pertama, Evi kesulitan mencari makan. Warung padang, warung nasi, warung baso, yang biasanya jadi pilihan tutup semua. Ternyata di Hari Minggu mereka libur karena mereka pergi ke gereja.
" Jangankan makan. Ojek juga jarang sekali di hari minggu, pos ojeknya juga kosong. Saya terpaksa makan roti dan Pop mie," katanya kepada Titiktemu.co. sambil tersenyum.
Baca Juga: Pengalaman Dewi Cholidatul Ummah, Mantan Jurnalis Yang Menjadi Penulis Di Nias
Evi tinggal di SBB bukan tanpa alasan, ia diundang Pusat Pembinaan Bahasa Dan Sastra untuk residensi bersama 24 penulis lain di daerah 3T selama tiga minggu untuk menghasilkan novel remaja bernuansa budaya lokal.
Evi menulis cerita berlatar belakang bencana Bahaya Seram, th 1899, karena wilayah Kepulauan Maluku sangat rawan bencana gempa dan tsunami dan ada daerah yang terdampak ada di area SBB yaitu Desa Elpaputih dan Hatusua. Uniknya bencana yang terjadi pada tahun 1764 terdokumentasi dg baik oleh seorang ilmuwan Belanda, tapi tidak ada catatan bagaimana dampaknya di area yg sekarang. Di Hatusua sendiri sampai sekarang gempa diikut tsunami ini tabu dibicarakan.
Saat melakukan riset di bulan Agustus Evi agak sulit u melakukan riset lapangan . Ini dikonfirmasi oleh pendamping dari Kantor Bahasa Maluku Benny Arnas yang juga peserta Sastrawan Berkarya th 2018.
Baca Juga: Cerita Desi Pupitasari , Penulis Yogya Yang Mengejar Isu Sepakbola Di Merauke
" Jadinya saya lebih banyak riset lewat jurnal. Saya sampai ke Balai Arkeologi untuk dapat jurnal-jurnal ini karena kalau cari lewat internet tidak mendapat dapat akses," kata Evi menceritakan kesulitannya.
Novel kedua adalah tentang konflik Ambon. Ini berangkat dari kekaguman Evi kepada orang Maluku yang punya sikap toleransi yang luar biasa kuat, baik sebelum maupun setelah konflik Ambon. Sikap toleransi ini tidak berubah dan kembali utuh meski telah dicabik konflik ambon 1999-2002.
Ini menunjukkan kemampuan local wisdom bernama pela gandong dalam membantu upaya rekonsiliasi
Evi sendiri sebagai penulis mempunyai misi yang disampaikan lewat novel ini, yaitu ingatan kolektif tetap diperlukan meski teknologi telah mengalami kemajuan pesat.
Artikel Terkait
Kisah Penulis Yogyakarta Tria Ayu Berburu Bahan Novel Di Sumba
Penulis Purwokerto Sulung Haryanto Rela Tinggal Di Papua Untuk Novel Remajanya
Pengalaman Dewi Cholidatul Ummah, Mantan Jurnalis Yang Menjadi Penulis Di Nias
Cerita Desi Pupitasari , Penulis Yogya Yang Mengejar Isu Sepakbola Di Merauke