sosok

Gusti Trisno Menjadikan Menulis Sebagai Wadah Komunikasi Padamulanya

Minggu, 29 Desember 2024 | 15:30 WIB
Penulis Sutrisno Gustiraja Alfarizi (Istimewa)

TITIKTEMU.CO, Menulis bagi Sutrisno Gustiraja Alfarizi adalah sarana melepas ekspresi. Sebab, ketika Gusti Trisno panggilannya  masih bersekolah di Situbondo , sulit mengungkapkan apa yang dirasakan hatinya kepada teman -temannya. Makanya, menulis  sepertinya menjadi wadah yang tepat. Dari Gusti yang semula minder menjadi lebih percaya diri.

Sejak SMA, tepatnya pada tahun 2013, Gusti mulai menulis cerpen. Buku-buku Fiksi Remaja Islami (FIKRI) atau Novel Remaja Islam (NORI) menjadi inspirasi awalnya . Namun, kini Gusti  menyukai semua bacaan untuk kebutuhan belajar.

" Bagiku kini membaca itu penting untuk menulis. Kita bisa belajar bagaimana seorang penulis membuat karakter, membangun konflik, memilih bahasa, dan lain-lain," katanya.

Tak terasa Gusti  telah menerbitkan 10 buku yang terdiri atas kumpulan cerpen, kumpulan puisi, novel, dan buku penulisan kreatif.

Baca Juga: Penulis Purwokerto Evi Z Indriani Kagum Dengan Orang Maluku Yang Mempunyai Toleransi Tinggi

Berbekal karya-karyanya itu Gusti memberanikan diri mengirimkan portofolionya ke Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra yang akan mengadakan Residensi Penulisan Di Daerah 3T selam tiga minggu untuk menghasilkan dua novel. 

Saat itu, Gusti tidak berekspestasi bakal lolos. Terlebih, pasti banyak  penulis yang mendaftar juga.

" Ketika lolos, aku yakin mendapatkan tempat yang sudah sesuai dengan jalan-Nya. Makanya, aku akan menerima di mana pun itu,"  kata Gusti kala itu.

Ternyata Gusti mendapatkan lokasi residensi di Pesisir Barat, Lampung.  Selama residensi penulis di daerah 3T, Gusti mengaku  bertemu dengan banyak orang baik. Mereka membantu riset di berbagai lokasi.

Baca Juga: Pengalaman Dewi Cholidatul Ummah, Mantan Jurnalis Yang Menjadi Penulis Di Nias

Ada tiga yang membantu secara bergantian, yakni Wo Elly yang menjabat Ketua Harian Dewan Kesenian Pesisir Barat, Andes, dan Jalil. Ketiganya bergantian menemani sekaligus memberikan rekomendasi tempat dan siapa yang harus ditemui, serta jadi tempat diskusi terutama bagian-bagian buku. Terutama yang berhubungan dengan Pesisir Barat dan bahasa Lampung yang dijadikan bagian/deskripsi dalam novel.

Selain bertemu mereka, Gusti  juga turut mengikuti kegiatan kebudayaan seperti Ngejalang Tari, bahkan masuk ke tempat yang dipandang mistis.

Gusti beruntung mendapatkan begitu  banyak  inspirasi untuk tulisannya. Pesisir Barat begitu kaya akan budaya. Masyarakatnya juga begitu ramah. Dari berbagai inspirasi yang muncul itu, Gusti  menuliskan dua judul novel dan berharap suatu saat bisa memoles ide lainnya dalam bentuk novel atau catatan perjalanan.

 

 

Halaman:

Tags

Terkini