Prodi Film dan Televisi bergabung dalam Fakultas Budaya dan Media.
Baca Juga: Liburan ke Jogja? Ini 7 Kuliner Jogja di Kawasan Malioboro yang Super Duper
Nama ISBI Bandung baru digunakan pada tahun 2014.
Awalnya adalah pada tahun 1971 bernama Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian berubah menjadi Konservatori Tari (KORI) pada tahun 1968, dan tahun 1995 berubah lagi menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.
6. Universitas Jember (Unej)
Prodi Film dan Televisi di Unej, berada pada Fakultas Budaya.
Dilansir dari laman resminya, Prodi Film dan Televisi Unej bertujuan menciptakan tenaga ahli di bidang pertelevisian dan perfilman, diantaranya produser produk audio visual, penulis naskah, animator, dan editor audio visual.
Baca Juga: TONGSENG LIDAH oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
7. Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatra Barat
Dari laman resminya, program pendidikan sarjana (S1) pertelevisian ditempuh dengan bobot 146 SKS, dengan struktur kurikulum yang terdiri dari, pengetahuan umum, pengetahuan dan keterampilan dasar, pengetahuan dan keterampilan penunjang, pengetahuan dan keterampilan keahlian, serta tugas akhir pengkajian atau penciptaan.
Jalur penyelesaian pendidikan pertelevisian, sesuai dengan kompetensi program S.1 terdiri dari:
1. Jalur Pengkajian Program Perlevisian
2. Jalur Penciptaan Program Pertelevisian
Baca Juga: Pemerintah Segera Revisi Aturan Jaminan Hari Tua (JHT)
Tujuan pendidikan pertelevisian adalah menyiapkan sarjana pertelevisian yang menguasai dasar-dasar ilmu dan keterampilan dan bertanggungjawab sebagai pengkaji dan pencipta karya seni bidang program televisi.
Mampu menyerap, menyeleksi dan memanfaatkan berbagai nilai seni budaya melayu sebagai landasan pengkajian dan penciptaan karya pertelevisian.
Memiliki pengetahuan dan kemampuan penalaran dalam memecahkan masalah pertelevisian sebagai sarana komunikasi dan informasi.