Empat kelas tersebut adalah kelas Akar (usia 3-5 tahun), kelas Rumput (5-7 tahun), kelas Ranting (7-10 tahun) dan kelas Batang (10-15 tahun).
Sekolah ini tidak memungut biaya sepeser pun. Gaji pengajar dan petugas administrasi diambil dari unit usaha sekolah. Semua hasil dari unit usaha untuk keberlangsungan sekolah.
Beberapa usaha itu antara lain pengelolaan bank sampah, peternakan, dan kebun sayur. Menariknya, unit usaha ini sekaligus menjadi media pembelajaran siswa.
Sekolah Gajahwong memiliki kurikulum sendiri hasil adaptasi beberapa kurikulum. Nilai-nilai kearifan lokal, pembelajaran lingkungan, sosial, dan budaya dengan metode tematik.
Kurikulum informal Sekolah Gajahwong menjadi bahasan dan minat banyak akademisi. Tidak haya dari Indonesia, tapi juga Malaysia, Australia, dan negara lain.
“Kami tetap mendorong anak-anak masuk sekolah formal. Sudah ada sekitar 20 anak yang masuk sekolah formal. Tapi mereka masih belajar di sini,” kata koordinator sekolah, Faiz Fakhruddin.
Baca Juga: Beternak Domba Bebas Bau, Bisa Lho. Gak Percaya? Simak Tips dan Trik Berikut Ini
Faiz menambahkan selama pandemi siswa sekolah tiga kali seminggu. Namun, kali ini guru yang mendatangi siswa.
“Tiga kali seminggu dengan kelompok-kelompok kecil 3 sampai 4 anak. Kita kan tetap harus menerapkan prokes,” ujarnya.***