Content creator tidak menghasilkan berita atau artikel sebagaimana mestinya, namun malah menghasilkan artikel-artikel tentang zodiak atau ramalan, film atau sinetron yang akan ditayangkan di televisi, dan sebagainya.
Tak hanya itu, menurut Abrar, berita atau artikel yang dihasilkan juga tidak mementingkan persoalan, apakah berita atau artikel tersebut penting bagi masyarakat atau tidak.
Tetapi, orientasi produksi artikelnya, malah tergantung apakah artikel tersebut menarik atau tidak.
Baca Juga: Liburan ke Jogja, Event Wisata 2022 Ini Nggak Boleh Dilewatkan
Hasil produksi para content creator tersebut, lebih ditujukan untuk meningkatkan kunjungan kepada laman media pers tersebut.
Karena dengan semakin banyak kunjungan kepada laman media, semakin banyak iklan dapat ditampilkan, maka semakin banyak pula, perusahaan pers mendapatkan keuntungan.
“Jadi, apapun kerja content creator itu, bermanfaat untuk medianya, tapi tidak untuk khalayak (masyarakat),” tandas Abrar.
Baca Juga: Siap-siap! 12 Serial Bakal Tayang di WeTV di Tahun 2022, Salah Satunya Tilik
Abrar menekankan, sebenarnya juga tidak salah bagi perusahaan pers untuk mencari keuntungan.
“Sebuah hal yang naif pula, ketika perusahaan pers tidak mencari keuntungan. Namun, perusahaan pers tersebut juga harus mengingat, diri mereka sebagai lembaga sosial, dimana bekerja untuk meningkatkan intelektualitas masyarakat”, uajr Abrar.
Baca Juga: Kemenag: Pelaku Tindak Asusila Santriwati Sudah Ditahan, Lembaganya Ditutup!
Abrar menjelaskan adanya tiga tanda terjadinya sebuah krisis jurnalisme.
Pertama adalah masyarakat ragu dengan profesionalisme wartawan.
Kedua otonomi jurnalisme berkurang, dimana telah dimasuki berbagai macam kepentingan.