Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
Melalui tembang ini, Sunan Kalijaga mengingatkan masyarakat Islam segera bangun dan bergerak karena saatnya telah tiba.
Ibarat tanaman yang sudah siap dipanen, demikianlah masyarakat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) siap menerima ajaran Islam dari para wali.
Baca Juga: Keutamaan Shalat Subuh, Senilai Pahala Shalat Sepanjang Malam
Seperti diketahui, Kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan sebelumnya menganut Hindu. Munculnya Kerajaan Demak pasca Majapahit membawa jaran Islam.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
Hijau adalah warna kejayaan Islam. Agama Islam digambarkan layaknya pengantin baru yang menarik hati, yang membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitar.
Baca Juga: Surat Al Fatihah, Jadikan Bacaan Rutin, Lihat Apa yang Terjadi Pada Hidupmu
Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
Anak gembala maksudnya adalah para pemimpin. Belimbing adalah buah bersegi lima yang merupakan simbol dari rukun islam dan shalat lima waktu.
Para pemimpin diperintahkan Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar.
Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan menjalankan shlat wajib lima waktu, Isya, Subuh, Dzuhur, Ashar, dan Magrib.