Memasuki kelas 11, Atha mulai benar-benar mempersiapkan dirinya untuk kuliah luar negeri.
Ia mengambil berbagai ujian seperti IELTS, TOEFL iBT, hingga SAT—semuanya dikerjakan paralel dengan aktivitas akademik dan organisasi.
Ia mengaku sempat mengalami burn out, tetapi akhirnya mampu menyusun ulang ritme belajar dan prioritasnya.
Baca Juga: Borok Distribusi BBM Terbongkar: ‘Kencing Solar’, Pelangsiran, hingga Mobil Mewah Raup Subsidi
Sudah Sebulan Kuliah di UI, Tiba-tiba LoA dari Turki Mengubah Segalanya
Sebelum pengumuman beasiswa dari Turki, Atha sempat menjalani kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Namun, hidup membawanya ke babak baru.
Hanya sebulan menjalani perkuliahan, sebuah email dari Ankara datang pada akhir Agustus.
Atha dinyatakan lulus sebagai penerima Turkiye Burslari Scholarship untuk program Kedokteran di Gazi University—salah satu kampus top di Turki.
Walaupun fokus pada kedokteran, Atha sebenarnya mendaftar pula ke jurusan Hukum, Hubungan Internasional, hingga Public Policy, menyesuaikan peluang beasiswa yang tersedia.
21 LoA dari Kampus Dunia, tetapi Beasiswa Penuh Menjadi Kunci
Atha diterima di kampus-kampus bergengsi di Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Australia, Hong Kong, Turki, hingga kampus dalam negeri.
Namun sebagian besar LoA hanya berupa pembebasan biaya kuliah tanpa pendanaan hidup.
Ia tidak ingin membebani orang tua, sehingga terus mengejar beasiswa penuh. Dua kali ia gagal mendapatkan Beasiswa Garuda.
Karena itu, beasiswa penuh dari Turki menjadi kesempatan yang tidak mungkin dilewatkan.***