pendidikan

Tragedi Timothy dan Cermin Gagalnya Kampus Mewujudkan Ruang Aman dan Inklusif

Selasa, 21 Oktober 2025 | 15:24 WIB
Tragedi Timothy dan Cermin Gagalnya Kampus Mewujudkan Ruang Aman dan Inklusif. (Kolase TikTok @bulelengterkini)

Baca Juga: Mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta Tewas Usai Lompat dari Lantai 5 Gedung Kampus

Kampus dan Polisi Bergerak

Pihak kampus membantah bahwa tekanan akademik menjadi penyebab Timothy mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 4 gedung kampus.

Ketua Unit Komunikasi Publik Unud, Ni Nyoman Dewi Pascarani, menjelaskan Timothy baru menjalani dua kali bimbingan skripsi dalam 20 hari terakhir. Dia juga dikenal berprestasi dengan IPK tinggi, yaitu 3,91.

Meski begitu, Unud membentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) untuk menyelidiki dugaan perundungan dan pelanggaran etika di lingkungan kampus.

Tim bertugas memeriksa pelaku ucapan tidak etis serta menyusun rekomendasi sanksi, mulai dari nilai buruk hingga potensi dikeluarkan dari universitas.

Sementara itu, pihak kepolisian Polsek Denpasar Barat sudah memeriksa 19 saksi, mulai dari teman, dosen, hingga keluarga korban. Namun hingga kini, belum ditemukan bukti kuat adanya perundungan terhadap Timothy.

Baca Juga: Misteri Kematian Timothy di UNUD: Polisi Temukan Fakta Baru, Keluarga Pilih Ikhlas

Perundungan Masalah Laten Dunia Pendidikan

Tragedi Timothy bukanlah kasus pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai universitas di Indonesia mencatat kasus serupa, yaitu mahasiswa mengalami tekanan psikologis hingga berujung pada tindakan ekstrem.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai kampus di Indonesia masih gagal menjadi ruang aman dan bebas dari kekerasan.

Dia menyebut bahwa praktik perundungan, pelecehan verbal, dan dominasi senioritas masih terpelihara subur di lingkungan akademik.

“Relasi kuasa di kampus tidak seimbang. Senior merasa lebih berkuasa atas junior, dosen lebih tinggi dari mahasiswa. Muncul budaya menekan dan mendominasi yang menghancurkan nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Rakhmat juga mengkritik peran Satgas PPKPT di banyak kampus yang cenderung bersifat formalitas administratif.

Menurut dia, Satgas lebih sering hanya bergerak setelah terjadi kasus besar, bukan dengan pencegahan aktif atau edukasi berkelanjutan.

Halaman:

Tags

Terkini