Ia mendaftar lewat jalur LPDP Perguruan Tinggi Utama Dunia (PTUD), yang memungkinkan pelamar mengamankan Letter of Acceptance (LoA) dulu sebelum daftar beasiswa.
Emir menilai Harvard sangat objektif menilai kualitas dan kepemimpinan calon mahasiswanya.
Baginya, kunci diterima di sana adalah menunjukkan rekam jejak kepemimpinan, kontribusi sosial, dan visi yang jelas.
Ia sengaja fokus mencari LoA dulu agar saat mendaftar LPDP bisa menunjukkan sudah diterima di kampus impian.
Dukungan UMY dan Pengalaman Kompetisi Internasional
Selain sibuk kuliah, Emir aktif di Student Exchange Committee Muhammadiyah Medical Student Activities (SECO MMSA) UMY.
Ia terlibat mengurus program pertukaran pelajar internasional.
Namun salah satu yang paling berkesan baginya adalah kelas tutorial bahasa Inggris FKIK UMY.
Di sana ia terbiasa berdiskusi tentang materi medis berbahasa Inggris, yang sangat membantunya untuk siap menghadapi pasien dengan lebih percaya diri.
UMY juga mendukung Emir ikut kompetisi internasional — termasuk Speech Competition di Korea Selatan dan Thailand, serta Model United Nations di Jakarta.
Menurut Emir, kegiatan seperti debat dan MUN membantunya mengasah pola pikir analitis yang berbeda dari metode saintifik di kedokteran.
Rencana Sepulang dari Harvard: Integrasi Kesehatan Mental untuk ODHA
Emir tak hanya ingin belajar, tapi juga sudah menyiapkan kontribusi nyata.
Ia berencana memulai pilot project untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke layanan HIV/AIDS di puskesmas-puskesmas di Yogyakarta.
Ia ingin meyakinkan para pengambil kebijakan untuk membuat pedoman resmi tentang dukungan psikososial bagi teman-teman ODHA.