“Saya ingin mengenalkan kembali seni ini kepada generasi muda.
Ledhek Gogik bisa mengikuti irama musik apapun, lho,” kata Pak Budi yang juga tergabung dalam Komunitas Desa Wisata Pandean, Yogyakarta.
Baca Juga: Dari Olimpiade Matematika ke Wisuda dengan IPK Sempurna: Kisah Inspiratif Orlando Ferrari di UGM
Momen Haru Saat Bertemu Menantu
Setelah prosesi wisuda selesai, Sarly, sang menantu, diajak petugas untuk menemui ayah mertuanya. Melihat kostum yang dikenakan Pak Budi, Sarly tak kuasa menahan haru.
Ia memeluk dan mencium tangan sang mertua dengan penuh rasa terima kasih dan kagum.
“Bapak memang budayawan sejati. Beliau pernah jadi dalang dan juga pemain ketoprak.
Baca Juga: Lebaran Betawi 2025, kuliner Betawi gratis, acara budaya Jakarta, perayaan Monas, lima abad Jakarta
Tapi yang paling mengharukan, beliau menyayangi saya seperti anak kandungnya sendiri,” tutur Sarly dengan mata berkaca-kaca.
Pelajaran dari Seorang Ayah Mertua
Kehadiran Pak Budi bukan hanya sebagai simbol kasih sayang dan dukungan keluarga, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya melestarikan budaya lokal.
Dalam pesannya kepada anak menantunya, beliau berujar, “Bekerjalah dengan baik, bangun keluarga yang harmonis, dan jadilah warga negara yang bertanggung jawab.”
Baca Juga: 10 Jurusan Kuliah Tersulit di Dunia dan Prospeknya yang Menjanjikan
Kisah ini mengajarkan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni, tapi juga perayaan kasih sayang, perjuangan, dan nilai-nilai budaya yang patut dijaga.
Sosok Pak Budi menjadi inspirasi, bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari momen kecil namun bermakna—dan tentu saja, dari hati yang penuh cinta.***