TITIKTEMU.CO - Siapa sangka, dari sebuah lapak nasi goreng sederhana di Cibaliung, Pandeglang, tumbuh sosok muda luar biasa yang kini berhasil menembus gerbang salah satu universitas terbaik dunia—Harvard University, Amerika Serikat.
Dialah Muhamad Yani, anak dari pasangan dengan latar belakang pendidikan sangat terbatas, namun bermimpi besar dan bekerja keras mewujudkannya.
Awal Perjalanan: Dari Tidur di Jalan Hingga ke Harvard
Muhamad Yani lahir dan besar di keluarga sederhana.
Ayahnya berjualan nasi goreng di Alun-Alun Sukajadi, sementara ibunya hanya sempat mengenyam pendidikan dasar. Kehidupan mereka jauh dari kata mudah.
Bahkan, Yani pernah mengalami tidur di pinggir jalan selama 10 hari karena tak mampu membayar kontrakan.
Namun, kesulitan itu justru membentuk semangat juangnya.
Dengan dukungan penuh dari keluarganya—sampai sang kakak harus berhenti kuliah demi membantunya—Yani melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Udayana, Bali, jurusan Agribisnis.
Baca Juga: Dari Olimpiade Matematika ke Wisuda dengan IPK Sempurna: Kisah Inspiratif Orlando Ferrari di UGM
Menemukan Panggilan Hidup di Dunia Pendidikan
Memasuki semester empat, Yani menyadari bahwa hatinya terpanggil untuk terlibat di dunia pendidikan dan pengembangan masyarakat desa.
Ia kemudian mendirikan Leuweung Hub Foundation, sebuah komunitas pendidikan non-formal yang aktif memberikan pendampingan dan beasiswa bagi anak-anak desa.
Hingga saat ini, lebih dari 287 pelajar desa telah terbantu mendapatkan akses kuliah, baik di dalam maupun luar negeri.