Hindari pertanyaan yang jawabannya bisa hanya "ya" atau "tidak."
Misalnya, daripada bertanya, “Kamu sudah makan?” cobalah, “Makanan apa yang paling kamu suka hari ini?” atau “Ceritakan hal paling lucu yang terjadi di sekolah.”
Pertanyaan terbuka mengundang anak untuk berpikir dan berbicara lebih banyak.
Selain itu, ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar ingin tahu tentang apa yang mereka alami, bukan sekadar basa-basi.
Baca Juga: Mengelola Konflik Keluarga dengan Komunikasi yang Efektif
Jadilah Pendengar Aktif
Anak-anak bisa merasakan apakah Anda benar-benar mendengarkan atau hanya setengah hati.
Jadi, ketika mereka mulai berbicara, tinggalkan ponsel, alihkan perhatian, dan dengarkan dengan sepenuh hati.
Cobalah untuk tidak langsung memberi solusi atau menghakimi.
Terkadang, anak hanya ingin didengar, bukan dinasihati.
Anda bisa merespons dengan kalimat seperti, “Wah, itu menarik! Lalu apa yang kamu lakukan?” atau “Aku bisa paham kenapa kamu merasa begitu.”
Ciptakan Momen Ngobrol yang Santai
Beberapa anak merasa sulit berbicara di bawah tekanan.
Daripada mengadakan “sesi tanya-jawab formal,” coba ngobrol saat suasana santai, misalnya saat makan malam, berkendara, atau sebelum tidur.