Riset tentang time banking menunjukkan bahwa sistem pertukaran waktu dapat mendorong bantuan timbal balik, keterlibatan sosial, dan pemanfaatan sumber daya komunitas yang sebelumnya tidak terlihat.
Ada pula manfaat sosial yang tidak kalah menarik. Orang tua tidak hanya mendapatkan bantuan childcare, tetapi juga membangun jaringan dengan keluarga lain. Anak pun berkesempatan tumbuh dalam lingkungan sosial yang lebih luas.
Baca Juga: Strawberry Parenting Versi Indonesia: Bukan Memanjakan, Tapi Cara Baru Mendidik Anak Lebih Kuat
Meski begitu, barter bukan berarti aturan boleh dibuat asal-asalan. Keamanan anak tetap nomor satu. Komunitas perlu menyepakati siapa yang boleh terlibat, batas tanggung jawab, jadwal, kondisi darurat, serta cara mencatat pertukaran waktu.
Sebab, penelitian tentang sistem time bank juga menunjukkan bahwa praktiknya tidak selalu semudah teorinya. Partisipasi yang rendah dan pengelolaan yang kurang kuat dapat membuat sistem pertukaran sulit berjalan konsisten.
Pada akhirnya, barter skill antar ortu bukan gagasan untuk menggantikan daycare atau pengasuh profesional dalam semua situasi. Ini lebih cocok dilihat sebagai jaringan bantuan komunitas: sederhana, fleksibel, dan tidak selalu membutuhkan uang.
Kadang, yang dibutuhkan satu keluarga bukan tambahan uang, melainkan dua jam waktu luang dari orang tua lain. Dan mungkin, di kesempatan berikutnya, giliran keluarga tersebut yang menjadi “tabungan waktu” bagi tetangganya.***
Artikel Terkait
Strawberry Parenting Versi Indonesia: Bukan Memanjakan, Tapi Cara Baru Mendidik Anak Lebih Kuat
Saat Nenek dan Kakek Ikut Mengasuh: Cara Damai Hadapi Beda Parenting Tanpa Ribut
Terjebak Tren Gentle Parenting dan Isme Lainnya? Ini Alasan Label Gaya Asuh Justru Merusak Ibu dan Anak
Tren Wearable Anak 2026: Alat Bantu Pantau Kesehatan Buah Hati atau Sekadar Gengsi Parenting?
Grup WhatsApp Parenting: Sumber Dukungan atau Sumber Stres Baru?
10 Tips Parenting Anak agar Tumbuh Cerdas, Mandiri, dan Percaya Diri, Orang Tua Wajib Tahu