TITIKTEMU.CO
MASJID Nabawi di Kota Madinah berdiri dengan megah dan menjadi salah satu tujuan beribadah ummat Islam di dunia.
Namun sejarahnya, rumah ibadah tersebut dibangun di atas tanah milik anak yatim yang dibeli oleh Muhammad Rasulullah SAW setelah hijrah dari Mekkah menuju Yastrib (Madinah).
Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahal dan Suhail bin 'Amr, yang kemudian dibeli oleh Muhammad untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman.
Dilansir dari NU Online, M. Muhyiddin dalam Sayyiduna Muhammad Nabi Al-Rahmah) yang dinukil KH Zakky Mubarak menjelaskan, ketika Rasulullah saw dan para sahabatnya memasuki kota Madinah, beliau mendapat sambutan yang luar biasa.
Kala itu setiap orang dari mereka menawarkan agar Rasulullah tinggal di rumahnya. Namun Nabi Muhammad tidak mau mengecewakan ajakan penduduk Madinah itu dengan tidak tinggal di rumah salah satu dari mereka.
“Biarkan unta itu berjalan, di mana ia berhenti di situlah kami tinggal karena unta itu telah ada yang memerintah” kata Rasulullah saw.
Perhatian ribuan orang kini tertumpu pada unta Nabi yang bernama Qushwa, yang berjalan sendiri. Diikuti oleh semua orang. Orang-orang Madinah dalam hati kecilnya berharap, semoga unta itu berhenti di rumahnya.
Unta itu terus berjalan berbelok ke kanan ke kiri, lurus, belok lagi dan ketika sampai di tanah lapang yang luas tempat menjemur buah kurma, unta itu tiba-tiba berhenti kemudian berlutut beristirahat di lapangan itu.
Semua orang berteriak histeris. Dengan rasa haru dan bahagia mereka mengatakan: “Di sini kami akan bangun masjid Rasulullah”. Ternyata tanah lapang itu adalah milik dua anak yatim Sahal dan Suhail.
Awalnya Sahal dan Suhail menolak pembelian itu, keduanya ingin mewakafkan saja tanah itu kepada Nabi.
Tetapi Beliau tidak akan menyia-nyiakan hak seseorang, apalagi anak yatim, maka Rasulullah pun membayar dengan harga sewajarnya.
Di tempat itulah akhirnya dibangun masjid raya yang kini kita kenal dengan Masjid Nabawi yang berkubah hijau di kota Madinah.
Rasulullah ikut serta secara langsung dalam pembangunan masjid, membuat dinding lumpur di atas fondasi batu. Pelepah kurma digunakan untuk menutup sebagian atap.