Di sisi lain, biaya hidup di Lasem juga tidak bisa dibilang murah. Harga kebutuhan sehari-hari cenderung meningkat, sehingga gaya hidup hemat atau “slow living” tetap membutuhkan kesiapan finansial.
Baca Juga: Desa Wotawati Gunungkidul Viral: Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore
Cocok untuk Singgah, Bukan Menetap?
Dengan kondisi ini, sepertinya Lasem lebih cocok dijadikan tempat singgah sementara dibanding tempat menetap jangka panjang.
Suasana yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kota besar, serta kekayaan budaya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk slow living beberapa hari.
Namun, bagi yang ingin tinggal dalam jangka panjang, perlu mempertimbangkan faktor ekonomi. Tanpa sumber penghasilan stabil, kehidupan di Lasem bisa menjadi tantangan tersendiri.
Meski begitu, bagi pencari ketenangan dan pengalaman hidup yang lebih sederhana, Lasem tetap memiliki daya tarik yang sulit ditandingi.
Kota kecil ini menawarkan harmoni budaya, toleransi, dan suasana damai yang semakin langka di tengah modernisasi.***
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Pindah ke Desa untuk Hidup Slow Living? Ini 5 Hal Penting yang Wajib Kamu Pertimbangkan Sebelum Memutuskan!
Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega
Mengenal Kafe Slow Bar yang Lagi Ngetren, Demi Menikmati Ngopi Lebih Intim
Rekomendasi 5 Slow Bar Kafe Paling Asyik di Jogja, Menikmati Kopi Terbaik dan Belajar Gratis!
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah
Solo: Kota dengan Ritme Hidup Lambat, Tempat Ideal untuk Slow Living?