Selain kekayaan budaya, Lasem juga dikenal sebagai wilayah dengan tingkat toleransi tinggi. Kehidupan masyarakat yang beragam, baik dari segi agama maupun etnis, berjalan harmonis tanpa konflik berarti.
Di satu sisi, terdapat vihara besar seperti Vihara Ratanavana Arama yang menjadi pusat kegiatan umat Buddha. Di sisi lain, berdiri pesantren dan masjid yang menjadi pusat aktivitas umat Islam.
Keberadaan Pesantren Kauman Lasem serta Masjid Jami Baiturrahman Lasem menjadi bukti nyata bahwa kehidupan lintas agama di Lasem berlangsung berdampingan secara damai.
Budaya toleransi ini tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga menjadi identitas kuat masyarakat Lasem. Inilah salah satu keunggulan utama kawasan tersebut dibanding daerah lain.
Baca Juga: Sabtu-Minggu di Purwokerto, Kuliner dan Liburan Slow Living Seru di Kaki Gunung Slamet
Lebih Populer sebagai Destinasi Wisata
Dengan segala keunikannya, tidak heran jika Lasem lebih dikenal sebagai destinasi wisata dibandingkan pusat ekonomi. Wisatawan datang untuk menikmati suasana kota tua, wisata religi, hingga kuliner khas.
Beberapa kuliner legendaris dari Lasem seperti lontong tuyuhan, sate srepeh, nasi gandul, hingga yopia menjadi daya tarik tersendiri. Kuliner ini mencerminkan akulturasi budaya yang juga terasa dalam cita rasa.
Namun, popularitas sebagai destinasi wisata belum sepenuhnya diimbangi dengan pengelolaan optimal. Sejumlah bangunan bersejarah dilaporkan mulai tidak terawat, bahkan ada yang dijual atau terbengkalai.
Baca Juga: Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi
Tantangan Ekonomi dan Lapangan Kerja
Di balik keindahan dan ketenangan yang ditawarkan, Lasem menghadapi tantangan besar dalam hal ekonomi. Peluang kerja di kawasan ini masih terbatas, sehingga banyak warga harus merantau.
Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pabrik yang dianggap memberikan penghasilan relatif stabil. Namun, pilihan pekerjaan di luar sektor tersebut masih cukup terbatas.
Sektor usaha seperti kerajinan, batik, atau industri kreatif sebenarnya memiliki potensi, tetapi pasar yang lebih luas sering kali berada di luar daerah bahkan luar negeri.
Ketersediaan lapangan kerja menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat yang tidak memiliki akses atau minat ke pasar global.
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Pindah ke Desa untuk Hidup Slow Living? Ini 5 Hal Penting yang Wajib Kamu Pertimbangkan Sebelum Memutuskan!
Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega
Mengenal Kafe Slow Bar yang Lagi Ngetren, Demi Menikmati Ngopi Lebih Intim
Rekomendasi 5 Slow Bar Kafe Paling Asyik di Jogja, Menikmati Kopi Terbaik dan Belajar Gratis!
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah
Solo: Kota dengan Ritme Hidup Lambat, Tempat Ideal untuk Slow Living?