Suasana Pagi Seperti Tak Pernah Usai di Desa Ini...

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Kamis, 23 Oktober 2025 | 15:56 WIB
Wotawati Gunungkidul: Suasana Pagi Seperti Tak Pernah Usai di Desa Ini   (Instagram @ekoandriyanto32)
Wotawati Gunungkidul: Suasana Pagi Seperti Tak Pernah Usai di Desa Ini (Instagram @ekoandriyanto32)

TITIKTEMU.CO - Di balik perbukitan kapur Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ada sebuah dusun tersembunyi yang memiliki fenomena alam unik.

Namanya Dusun Wotawati, bagian dari Desa Pucung, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul. Berada di lembah bekas aliran Sungai Bengawan Solo Purba, desa ini hanya mendapatkan sinar matahari sekitar 7 jam sehari.

Fenomena langka inilah yang membuat Wotawati kini ramai diperbincangkan dan bahkan mulai dilirik sebagai destinasi wisata alam dan budaya baru di Yogyakarta.

Baca Juga: Waktu Berjalan Lambat di Desa Sukomakmur, Tempat Indah yang Menenangkan

Matahari Selalu Terlambat Terbit

Bagi warga Wotawati, pagi hari tidak akan sama dengan tempat lain. Sinar matahari baru benar-benar menyinari desa ini sekitar pukul 08.00, dan akan menghilang sekitar pukul 16.30 sore.

“Jam tujuh itu sudah ada cahaya, tapi belum kelihatan penuh. Baru jam delapan terang semua. Kalau sore, matahari tenggelam di balik bukit sekitar setengah lima,” kata seorang Dukuh Wotawati.

Fenomena ini bukan karena posisi matahari yang berbeda, tapi karena lokasi desa ini diapit dua bukit tinggi di timur dan barat. Otomatis, kedua bukit akan menghalangi sinar matahari menembus desa ini.

“Bukan mataharinya yang terbit lebih lambat, tapi desa ini terhalang bukit. Jadi sinarnya baru bisa menembus ke permukiman setelah posisi matahari cukup tinggi,” kata Nabhan Mudrik Alyaum, alumni Geografi UGM.

Akibatnya, durasi paparan cahaya matahari di Wotawati jauh lebih pendek dibandingkan wilayah lain di sekitarnya. Suhu udara pun lebih sejuk dan lembap, menciptakan suasana seperti pagi yang tak pernah usai.

Baca Juga: Ini Alasan Purwokerto Cocok Jadi Kota Impian untuk Slow Living dan Menikmati Pensiun

Dampak ke Kehidupan Warga

Fenomena“matahari singka” ini pun memengaruhi ritme kehidupan warga Wotawati. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani, sehingga waktu bercocok tanam dan menjemur hasil panen menjadi terbatas.

“Kalau mau jemur baju atau hasil panen, ya cuma beberapa jam saja. Setelah jam empat sore sudah mulai gelap,” kata Saminah, setempat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X