Keterbatasan paparan sinar matahari juga membuat warga memilih menanam tanaman yang tidak butuh banyak panas, seperti singkong, sirsak, dan jati karena jenis tanaman ini mampu bertahan di tanah kering dan lembap.
Baca Juga: Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Asal-usul Nama Wotawati
Selain itu, lokasi dusun yang terkurung bukit juga membuat akses sinyal internet sangat sulit. Hanya ada beberapa operator bisa digunakan, dan itu pun sering putus-nyambung.
“Kalau Indosat sama Smartfren kadang muncul, kadang hilang. Jadi kalau mau nelpon harus keluar rumah,” ujar warga.
Nama Wotawat punya cerita menarik. Dari kisah turun-temurun, dusun ini berawal dari dua tokoh Majapahit, Raden Joko Sukmo dan Nyi Arum Sukmawati, yang melarikan diri ke wilayah ini tahun 1500-an.
Keduanya tinggal di sebuah gua yang kini dikenal sebagai Gua Putri. Alkisah, mereka membuat jembatan bambu untuk menyeberangi sungai. Saat mencoba melewati, Nyi Arum terpeleset namun diselamatkan Raden Joko Sukmo.
Dari kejadian itu, lahirlah nama Wotawati, gabungan dari kata ‘wot’ yang artinya jembatan, dan ‘wati’ dari dari nama Sukmawati. Hingga kini, kisah ini menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat setempat.
Baca Juga: Slow Living vs Hustle Culture: Hidup Bukan Lomba Lari, Bro!
Dari Dusun Terpencil Menjadi Desa Wisata
Meski terpencil, Dusun Wotawati memiliki daya tarik besar. Pemdes Pucung bersama Pemda DIY kini mengembangkan Wotawati menjadi desa wisata terpadu dengan konsep perpaduan budaya Majapahit dan Mataram.
Menurut Lurah Pucung, Estu Dwiyono, pembangunan dimulai sejak pertengahan 2024 melalui Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp5 miliar.
Dana tersebut digunakan untuk membangun pagar, pendopo, dan mempercantik fasad rumah warga dengan bata merah bergaya klasik.
“Konsepnya perpaduan arsitektur Majapahit dan Mataram. Selain menjaga budaya, kita ingin dusun ini tetap alami tanpa mengubah mata pencaharian warga yang sebagian besar petani,” ujarnya.
Dalam proyek ini, setiap rumah aditata agar selaras dengan konsep desa wisata. Jalan dan drainase juga dibenahi agar kawasan terlihat rapi dan nyaman. Pembangunan diperkirakan selesai pada tahun 2026.
Artikel Terkait
Mengenal Gaya Hidup Slow Living, Tidak Harus Hidup di Desa!
Temukan Kedamaian! Ini 7 Kota Terbaik untuk Liburan Slow Living di Indonesia, Cocok untuk Healing dan Menenangkan Diri
Mindfulness dan Meditasi: Seni Hidup Slow di Era Serba Cepat
Revolusi Pelan-Pelan: Slow Living sebagai Jurus Rahasia Menang di Era Serba Cepat
Dari Burnout ke Bliss: Rahasia Slow Living yang Diam-Diam Mengubah Cara Kita Bekerja dan Hidup
10 Kota Slow Living di Indonesia yang Cocok untuk Menenangkan Diri