nasional

Tragedi Kanjuruhan: 2 orang terdekat Elmiati terenggut nyawanya. 'Mereka terus menembak dan menembak'

Senin, 10 Oktober 2022 | 18:27 WIB
Muhamad Virdy Prayoga, foto bersama orang tuanya, Elmiati dan Rudi Hariyanto, sebelum pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan berakhir ricuh (pic/ Elmiati/washington post)

Personel polisi dan militer merespons secara agresif, menggunakan tongkat dan perisai anti huru hara untuk memukul mundur para pendukung sebelum menembakkan lusinan peluru tidak mematikan. Termasuk gas air mata ke lapangan dan langsung ke tribun penonton.

Baca Juga: Serba Serbi Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022 dan Kaitannya dengan COVID-19

Dalam perebutan untuk melarikan diri melalui pintu sempit stadion, beberapa di antaranya terkunci, puluhan orang mati lemas atau terinjak-injak sampai meninggal.

Dari 101 orang yang dibawa ke Rumah Sakit Wava Husada pada Sabtu malam dan Minggu pagi, 73 orang meninggal, kata Isabella Kusuma Anjelin, spesialis pengobatan darurat yang bekerja saat itu. Beberapa adalah anak-anak, tetapi sedikit yang masih berumur 3 tahun. Seperti usia Muhamad Virdy Prayoga.

Elmiati, yang seperti kebanyakan orang Indonesia, menggunakan satu nama, menonton pertandingan dari bagian tribun 13. Saat pertandingan usai, dia, suami, dan putranya masih dalam suasana hati yang baik, meski Arema sudah kalah. Mereka ingin pulang untuk bertemu putri mereka, berusia 14, yang telah berada di rumah.

Baca Juga: Lesti Kejora Bertolak Ke Tanah Suci Pasca KDRT, Billar Belum Siap …Ternyata Sempat Terlontar Talak 1

Dia mulai merasa khawatir ketika dia melihat polisi menyerbu ke lapangan. Dan ketika mereka mulai menembakkan gas air mata langsung ke tribun, di dekat tempat dia duduk, dia mulai panik.

“Gas itu membakar tenggorokan saya, dan itu menyengat mata dan kulit saya,” katanya. “Mereka terus menembak dan menembak.”

Putus asa agar keluarga terhindar dari awan tebal gas air mata, suaminya, Rudi Hariyanto, 34, menjemput Virdy saat hendak keluar lewat pintu 13. Namun terhalang suporter lainnya, hanya satu per satu orang yang bisa lewat, kenang Elmiati. Ketika orang-orang di
sekitarnya mendorong untuk melarikan diri, dia menjadi terpisah dari suami dan putranya.

Baca Juga: Profil Sara Carbonero Jurnalis Olahraga Mantan Istri Iker Casillas

Setelah keluar, Elmiati mengetahui dari anggota keluarga lain yang juga pernah menonton pertandingan bahwa Hariyanto dan Virdy masih ada di dalam. Dia memberikan foto mereka kepada pihak berwenang setempat untuk melihat apakah mereka dapat membantu
mengidentifikasi mereka.

Tepat setelah pukul 11 ​​malam, sekitar satu jam setelah polisi pertama kali menembakkan gas air mata, dia mendapat telepon. Virdy di RS Kanjuruhan, dan Hariyanto di RS Wava Husada. Keduanya telah meninggal.

Di RS Kanjuruhan, Elmiati memegang tubuh Virdy sambil membelai rambutnya. Kepalanya telah diperban dan darah kering bercucuran dari hidungnya. Wajahnya pucat dan matanya tertutup.

Baca Juga: Sah! Presiden Resmi lantik Sri Sultan HB X dan Paku Alam X sebagai Gubernur dan Wagub DIY Periode 2022-2027

"Kami berencana memasukkannya ke TK tahun depan,” kata Elmiati. "Sekarang dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan sekolah di TK."

Halaman:

Tags

Terkini