nasional

Sejarah Singkat Gerakan 30 September 1965, Tragedi Nasional yang Membekas Hingga Sekarang

Senin, 12 September 2022 | 18:03 WIB
Sejarah Singkat Gerakan 30 September 1965, Tragedi Nasional yang Membekas Hingga Sekarang (sumber.belajar.kemdikbud.go.id)

TITIKTEMU.CO - Tragedi nasional yang hingga kini masih menjadi perbincangan yakni Gerakan 30 September 1965. Peristiwa yang merenggut para jenderal itu hanya berlangsung selama dua hari, tetapi dampaknya sangat besar hingga kini.

Hingga kini, tanggal 30 September setiap tahunnya dikenal sebagai Hari Gerakan 30 S. Pemutaran film Gerakan 30 September dan cerita sejarah turun temurun pun terus dilakukan hingga kini. Berikut ini penjelasan tentang peristiwa Gerakan 30 September yang dikutip titiktemu.co dari sumber.belajar.kemdikbud.go.id.

Baca Juga: 7 Pahlawan Perempuan Sebelum Kemerdekaan, dari Laksamana Malahayati Sampai Rasuna Said

Pengertian Peristiwa G 30 S
Peristiwa Gerakan 30 September adalah tragedi nasional yang diduga dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa tersebut berupa penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal yang melatarbelakanginya yakni persaingan politik antara PKI dan TNI.

Pemberontakan ini berlangsung selama dua hari yakni 30 September dengan agenda koordinasi dan persiapan dan 1 Oktober yakni pelaksanaan penculikan dan pembunuhan. Gerakan 30 September ini dibawah pimpinan Letnan Kolonel Untung dari Komando Batalyon I resimen Cakrabirawa.

Letkol Untung menunjuk Lettu Dul Arief sebagai ketua pelaksana penculikan. Penculikan itu dimulai pukul 03.00 WIB terhadap tujuh jenderal dan satu jenderal selamat. Enam jenderal yang jadi korban yakni Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI M.T. Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI D.I. Pandjaitan dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo.

Baca Juga: Profil Jenderal Wanita Pertama, Brigadir Jenderal Polisi Purn Jeanne Mandagi Lengkap! Sangat Menginspirasi!

Satu jenderal yang selamat dari penculikan itu adalah A.H. Nasution, tetapi putrinya, Ade Irma Suryani dan ajudannya Lettu Pierre A. Tandean menjadi korban. Korban lain yang muncul yakni Bripka Karel Satsuitubun.

Setelah melakukan penculikan dan pembunuhan, PKI menguasai gedung Radio Republik Indonesia (RRI). Mereka mengumumkan Dekrit No. 1 yang menyatakan bahwa Gerakan 30 September merupakan upaya penyelamatan negara dari para jenderal yang ingin mengambil alih.

Kebingungan pun muncul. Masyarakat mempertanyakan keberadaan para jenderal tersebut. Kebingungan kedua yakni siapa yang mengaku dirinya Dewan Revolusi dan menyiarkan berita Dekrit No. 1.

Baca Juga: Tokoh di Sekitar Nasionalisasi De Javasche Bank

Soeharto Bertindak
Mayjen Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, menerima laporan. Soeharto pun langsung membuat dugaan dan ia meyakini bahwa para jenderal telah diculik dan dibunuh. Ia pun mengambil alih pimpinan Angkatan Darat untuk mengusut peristiwa tersebut.

Mayjen Soeharto menugaskan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo merebut kembali gedung RRI dan berhasil. Pada 20.00 WIB, Soeharto mengumumkan adanya perebutan kekuasaan oleh Gerakan 30 September dan memberitahukan bahwa Jenderal A.H. Nasution dan Presiden Soekarno selamat.

Operasi penumpasan PKI pun dilakukan pada 2 Oktober 1965. Polisi Sukitman yang lolos dari penculikan PKI membantu pasukan pemerintah menemukan lokasi jenazah di sumur tua. Di atasnya terlihat ada pohon pisang untuk mengelabui kuburan tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini