TITIKTEMU.CO-Harga gas melon memang kecil di mata sebagian orang, tetapi bagi rumah tangga berpenghasilan pas-pasan, selisih beberapa ribu rupiah saja bisa terasa di akhir bulan.
Karena itu, rencana pembelian elpiji 3 kg berdasarkan desil membuat sejumlah warga khawatir, terutama mereka yang merasa data kesejahteraannya tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
Rencana pemerintah tersebut ditujukan untuk memperbaiki penyaluran subsidi energi agar lebih tepat sasaran.
Namun, di lapangan muncul persoalan lain: bagaimana jika desil seseorang ternyata tidak sesuai dengan keadaan ekonominya?
Baca Juga: Jadwal dan Link Live Streaming Byon Showbiz 8 Hari Ini, Jeka Saragih vs Ammarul Shafiq
Pembelian Elpiji 3 Kg Berdasarkan Desil Dipersoalkan
Rany, warga Jakarta Selatan berusia 28 tahun, termasuk yang keberatan dengan rencana tersebut. Ia menilai penggunaan desil sebagai dasar pembelian elpiji 3 kg berpotensi membuat masyarakat berpenghasilan rendah kehilangan akses terhadap barang yang selama ini membantu menekan pengeluaran rumah tangga.
Rany bahkan mengaku tercatat dalam desil 10, kategori yang menunjukkan tingkat kesejahteraan paling tinggi. Masalahnya, ia merasa kondisi tersebut tidak sesuai dengan kehidupan sehari-harinya.
Ia mengatakan tidak tercatat memiliki rumah maupun kendaraan dan mengaku belum didatangi petugas sensus ekonomi 2026. Kondisi itu membuatnya mempertanyakan bagaimana dirinya bisa masuk kategori desil 10.
Baca Juga: Sisa Kuota Tak Bisa Asal Hangus Lagi! Ini Aturan Baru Menkomdigi yang Wajib Diketahui
Data Desil Jadi Sumber Kekhawatiran
Keluhan serupa datang dari Rike, 50 tahun. Ia juga tercatat dalam desil 10, tetapi mengaku masih berada dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah dan tidak pernah menerima bantuan sosial.
Menurut Rike, jika data desil belum sepenuhnya akurat, menjadikannya dasar pembatasan pembelian gas melon justru dapat menciptakan masalah baru. Warga yang sebenarnya membutuhkan subsidi bisa saja terlewat hanya karena posisi mereka dalam data tidak sesuai kondisi terkini.
Apriyani, 30 tahun, bahkan menyatakan penolakan lebih tegas. Ia mempertanyakan penetapan dirinya sebagai desil 10 karena belum pernah didatangi petugas sensus ekonomi 2026.
Baca Juga: Jadwal dan Link Live Streaming MotoGP Aragon 2026, Saksikan Sprint dan Race di Vidio
Bagi warga seperti Apriyani, persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak membeli elpiji 3 kg. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana angka desil tersebut berasal dan seberapa akurat data yang digunakan?