Bukan Cuma Soal Penghasilan, Tapi Cara Mengelola Uang
Menariknya, persoalan gaya hidup tidak selalu selesai dengan kalimat “jangan boros”. Akses terhadap layanan keuangan digital juga membuat transaksi semakin mudah dilakukan.
OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional pada SNLIK 2025 sebesar 66,46 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Artinya, semakin banyak masyarakat yang memiliki akses ke produk keuangan, tetapi akses tersebut tetap perlu diiringi kemampuan mengelolanya.
Baca Juga: Bukan untuk Semua Sekolah, 80 Sekolah Swasta Elite Kini Dicoret dari Penerima MBG
Bagi pekerja muda, kemudahan pembayaran digital, cicilan, dan berbagai fasilitas kredit bisa terasa seperti tambahan penghasilan. Padahal, limit bukan uang ekstra.
Kalau gaji Rp5 juta lalu pengeluaran rutin dan cicilan mencapai Rp4,8 juta, gaya hidup memang terlihat nyaman. Hanya saja, ruang bernapasnya tinggal Rp200 ribu.
Flexing Tidak Selalu Salah, Tapi Ada Batasnya
Menikmati hasil kerja tentu bukan dosa. Membeli sepatu yang disukai, makan di restoran bagus, atau pergi liburan sesekali juga merupakan bentuk menikmati hidup.
Baca Juga: Mahasiswa Bisa Dapat Pengalaman Jadi Relawan Pajak 2027, Pendaftarannya Dibuka Besok!
Yang menjadi masalah adalah ketika penampilan mulai lebih penting daripada kondisi rekening. Apalagi jika seseorang harus berutang hanya agar terlihat mampu mengikuti gaya hidup lingkungannya.
Solusinya bukan harus hidup pelit. Gen Z dan milenial tetap boleh punya gaya hidup keren, selama kebutuhan dasar, tabungan, dana darurat, dan kewajiban finansial tidak dikorbankan.
Sederhananya, tidak masalah terlihat seperti sultan sesekali. Yang berbahaya adalah dompet UMR dipaksa menjalani kehidupan sultan setiap hari.
Pada akhirnya, media sosial hanya menunjukkan apa yang ingin seseorang tampilkan. Saldo rekeninglah yang biasanya tahu cerita lengkapnya.***