“Jangan sampai persoalan administrasi data kemudian membuat mahasiswa yang secara nyata masih membutuhkan bantuan justru kehilangan dukungan di tengah jalan,” menjadi kekhawatiran yang disampaikan Selly.
Baca Juga: Anak Itu Aset atau Liabilitas? Jawabannya Bisa Membuat Ortu Milenial Terdiam
Dalam kasus Timbul, persoalan ini terasa nyata karena anaknya baru saja diterima di perguruan tinggi. Perubahan status kesejahteraan membuat keluarga tersebut cemas terhadap keberlanjutan bantuan pendidikan yang mereka butuhkan.
Mekanisme Sanggah Jangan Dibuat Berbelit
Pemerintah memang telah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mengoreksi atau menyanggah data. Namun, menurut Selly, keberadaan kanal pengaduan saja belum cukup.
Proses koreksi harus cepat, sederhana, terbuka, dan benar-benar merespons kondisi warga. Jangan sampai seseorang kehilangan hak bantuan hari ini, sementara perbaikan datanya baru selesai berbulan-bulan kemudian.
Baca Juga: Kenapa Generasi Sekarang Rela Antre Berjam-jam demi Kopi? Ternyata Bukan Cuma Soal Rasa
Bayangkan sebuah keluarga sedang membutuhkan bantuan untuk membayar pendidikan anak, tetapi harus menunggu terlalu lama hanya karena status dalam database tidak sesuai dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Pemerintah Diminta Bergerak Lintas Instansi
Selly mendorong pemerintah memperkuat koordinasi antara Kemendagri, Kemensos, BPS, serta kementerian dan lembaga terkait.
Jika data kesejahteraan terus digunakan sebagai dasar menentukan penerima bantuan, pembaruannya juga harus dilakukan secara berkala dan terkoordinasi. Jangan sampai satu lembaga menunggu lembaga lain ketika kondisi masyarakat sudah berubah.
Baca Juga: Gerhana Bulan Sebagian 28 Agustus 2026 Tak Terlihat dari Indonesia, Ini Jam Puncaknya
Sementara itu, Timbul kini mencoba meminta bantuan pemerintah desa untuk mengurus perubahan status desilnya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka dalam sistem, ada manusia yang kehidupannya bisa ikut berubah ketika angka tersebut keliru.
Pada akhirnya, data memang penting. Tetapi data yang baik bukan hanya terlihat rapi di layar komputer—ia harus mampu menceritakan kondisi masyarakat dengan sejujur mungkin.