Di balik kisah tersebut, Ajup juga ingin menunjukkan bahwa Papua memiliki kekayaan alam yang dapat menjadi sumber pangan bergizi bagi masyarakat.
Berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan hingga umbi-umbian tersedia dari alam dan dapat dimanfaatkan secara bijaksana.
"Alam telah menyediakan sayur, buah, umbi-umbian, dan berbagai hasil bumi yang melimpah," tuturnya.
Menurut Ajup, hal terpenting adalah bagaimana masyarakat menjaga dan mengelola sumber daya alam tersebut dengan baik.
Dengan pemanfaatan potensi lokal secara tepat, masyarakat dapat memperoleh makanan bergizi sekaligus tetap menjaga kelestarian alam.
Ia juga mengingatkan bahwa pola hidup sehat tidak harus menghilangkan kebiasaan maupun keberagaman pangan lokal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Sayur dan Buah Jadi Simbol Rasa Syukur
Bagi Ajup, sayur dan buah yang diberikan para siswa kepada guru memiliki makna lebih dari sekadar hasil kebun.
Pemberian tersebut menjadi gambaran tentang kasih sayang, kerja keras, kepedulian, dan rasa syukur yang mulai tumbuh dalam diri anak-anak.
"Ada kasih, kerja keras, dan karakter yang sedang bertumbuh. Mereka mengajarkan bahwa memberi tidak harus menunggu berkelimpahan," kata Ajup.
Menurutnya, seseorang tetap dapat memberikan manfaat bagi orang lain meskipun hanya memiliki sesuatu yang sederhana.
"Bahkan dari yang sederhana, kita tetap bisa menjadi berkat," lanjutnya.
Baca Juga: 11 Kantor Pemkab Puncak Papua Tengah Dibakar Massa, Diduga Dipicu Polemik Penyaluran Dana Desa
Harapan untuk Papua
Ajup berharap kisah tersebut dapat membuat masyarakat melihat Papua dari sisi lain, bukan hanya sebagai wilayah yang memiliki berbagai tantangan, tetapi juga sebagai daerah yang kaya akan potensi alam dan memiliki masyarakat dengan semangat berbagi.