“Kekuasaan di NU itu bukan untuk direbut (dithalab), melainkan sebuah amanah berat yang digotong bersama atas dasar khidmah (pengabdian),” kata Gus Miftah.
Baca Juga: Gus Miftah Soroti Klaim “Restu Istana” Jelang Muktamar NU: Jangan Jual Nama Presiden
Ia menilai seseorang yang belum memiliki kapasitas memadai tetapi memaksakan diri maju dengan membawa klaim dukungan Istana justru dapat merusak wibawanya sendiri di hadapan para kiai.
Muktamar ke-35 NU Diharapkan Berlangsung Bermartabat
Gus Miftah berharap Muktamar ke-35 NU di Tambakberas dapat berlangsung dalam suasana yang positif, bermartabat, serta jauh dari transaksi politik.
Ia menyerahkan proses penentuan kepemimpinan NU kepada para kiai sepuh di jajaran Syuriyah dan para muktamirin yang membawa mandat dari akar rumput.
“Muktamar di Tambakberas harus menjadi panggung yang gembira, bersih dari transaksional, dan bermartabat,” tuturnya.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Gus Miftah mengatakan dirinya tidak berada di kubu tim sukses mana pun. Ia mengaku hanya berharap NU mampu menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.
Baca Juga: Kapal Bawa 1,3 Ton Ketamin Digagalkan di Perairan Bintan, 8 ABK Diamankan Tim Gabungan
“Saya sebagai orang yang mencintai NU dan bukan bagian dari timses manapun, hanya ingin NU menjadi lebih baik ke depannya. Semata karena tantangan besar kini berada di depan mata nahdliyin,” ujarnya.
Ia pun kembali mengingatkan seluruh pihak agar tidak membawa kepentingan eksternal ke dalam forum muktamar.
“Ketika Istana memilih menghormati NU dari kejauhan dengan cinta dan proporsionalitas, maka elemen-elemen di luar sana mestinya tahu diri: jangan mengotori kesucian muktamar dengan dagang pengaruh yang stensilan,” pungkasnya.***