Fenomena ini hadir secara periodik, biasanya dalam rentang beberapa tahun sekali. Itulah sebabnya El Nino tidak bisa disamakan dengan musim kemarau yang selalu datang secara rutin.
Perbedaannya bisa diibaratkan seperti jalan raya dan kemacetan. Jalan raya selalu ada setiap hari, sama seperti musim kemarau yang datang setiap tahun. Sedangkan kemacetan besar hanya terjadi pada kondisi tertentu, mirip dengan El Nino yang muncul secara berkala dan memperparah situasi yang sudah ada.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS Hari Ini Sentuh Rp17.883, Simak Kurs BCA, BNI, dan Mandiri
Ketika El Nino bertepatan dengan musim kemarau, dampaknya bisa menjadi lebih terasa. Suhu udara cenderung meningkat, tanah lebih cepat kehilangan kelembapan, dan risiko kekeringan di sejumlah daerah ikut bertambah.
Karena itu, memahami perbedaan El Nino dan musim kemarau bukan sekadar soal istilah cuaca. Pengetahuan ini penting agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat, terutama di sektor pertanian, pengelolaan air, hingga mitigasi kebakaran lahan.
BMKG juga memantau bahwa El Nino 2026 memiliki peluang sangat tinggi untuk berkembang dalam kategori kuat. Kondisi tersebut membuat berbagai pihak perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Baca Juga: Uang Pensiun Tak Lagi Harus Dicicil? Putusan MK Ini Bisa Mengubah Nasib Banyak Pekerja
Jadi, saat cuaca mulai terasa semakin panas dan langit tampak lebih sering cerah tanpa awan, jangan langsung menyamakan semuanya dengan El Nino. Bisa jadi yang sedang terjadi hanyalah musim kemarau biasa. Namun ketika El Nino ikut hadir, musim kemarau yang normal dapat berubah menjadi tantangan yang jauh lebih berat.
Memahami perbedaannya adalah langkah sederhana yang bisa membantu kita lebih siap menghadapi perubahan cuaca yang semakin dinamis dari tahun ke tahun.***