Ketakutan akan ditilang polisi membuatnya gelap mata. Alih-alih berhenti atau mencari jalan keluar yang aman, ia justru melawan arus dan memacu kendaraan secara agresif.
“Tadinya takut ditilang,” tambahnya singkat.
Baca Juga: Raih Dua Keutamaan Sekaligus: Tips Memaksimalkan Ibadah di Jumat Ramadhan
Tak Kenal Medan Jakarta
Selain panik, HM juga mengaku tidak familiar dengan kondisi jalan di Jakarta Pusat. Ia diketahui melakukan perjalanan jauh dari Surabaya menuju Karawang, lalu berniat melanjutkan perjalanan ke Ancol bersama kekasihnya.
Sebelum insiden terjadi, keduanya sempat membeli dimsum. Namun setelah kembali ke jalan, situasi berubah kacau. Karena sudah terlanjur melawan arah, HM merasa tidak bisa menghentikan kendaraan dengan aman.
“Karena sudah lawan arah, sudah enggak bisa berhenti. Panik banget,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut justru memicu kritik publik. Banyak yang menilai kepanikan tidak bisa dijadikan alasan untuk membahayakan nyawa orang lain.
Jadi Pelajaran Penting Keselamatan Berkendara
Kasus sopir ugal-ugalan di Gunung Sahari ini menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab di jalan raya.
Mengemudi tanpa SIM bukan hanya pelanggaran administratif, tetapi juga menunjukkan kurangnya kesiapan dan kompetensi berkendara.
Hingga kini, polisi masih mendalami detail kejadian serta kemungkinan pelanggaran lain yang dilakukan tersangka. Sementara itu, peristiwa ini menjadi refleksi bahwa kepanikan di jalan bisa berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan banyak orang.
Tertib administrasi dan disiplin berlalu lintas bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri dan sesama pengguna jalan.***